Cerita di Balik Upacara Adat Mbah Bregas, Ngino Sleman

Jurnalis: Fajar Rianto
Editor: M. Rifat

4 Mei 2024 01:22 4 Mei 2024 01:22

Thumbnail Cerita di Balik Upacara Adat Mbah Bregas, Ngino Sleman Watermark Ketik
Masyarakat desak-desakan berebut gunungan yang berisi hasil bumi Kalurahan Margoagung (3/5/2024) (Foto: Humas Pemkab Sleman/Ketik.co.id)

KETIK, YOGYAKARTA – Upacara adat Mbah Bregas merupakan upacara Bersih Desa yang dilakukan di Dusun Ngino, Margoagung, Seyegan, Sleman.

Upacara ini diselenggarakan sehabis panen oleh masyarakat untuk mengenang keteladanan Mbah Bregas serta menjadi wujud syukur atas hasil panen yang melimpah dan berharap tahun-tahun ke depan hasil panen meningkat.

Adapun makna nilai-nilai luhur yang terkandung dalam kegiatan budaya ini adalah kebersamaan, kewibawaan,dan keteladanan.

Lurah Margoagung, Djarwo Suharto menyampaikan pagelaran Merti Desa Mbah Bregas tahun ini dilaksanakan pada 1 hingga 3 Mei 2024. Dengan rangkaian kegiatan seperti pengajian akbar, tarup wayang, pentas seni jathilan, pengambilan air suci, ziarah kubur, kenduri agung, kirab budaya dan prosesi upacara adat.

“Mudah-mudahan dengan kita mensyukuri hasil panen melimpah tahun ini, maka tahun selanjutnya dapat diberkahi dan diberi hasil panen yang lebih melimpah,” harapnya.

Antusias warga yang telah berpartisipasi dalam Merti Desa ini diapresiasi oleh Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo.

Menurut Kustini, melalui momentum Merti Desa ini ia mengajak masyarakat Margoagung dan sekitarnya untuk selalu merekatkan tali persaudaraan antar warga, guyub rukun, gotong royong serta gumregah.

Hal tersebut disampaikan Kustini, Jumat (3/5/2024) saat menghadiri Kirab Budaya dalam rangka Merti Desa ‘Mbah Bregas’ Kalurahan Margoagung, Seyegan di Balai Ringin Mbah Bergas Ngino.

Foto Salahsatu Bregodo yang mengikuti kirab budaya dalam upacara adat ini. (Foto: Humas Pemkab Sleman/Ketik.co.id)Salahsatu Bregodo yang mengikuti kirab budaya dalam upacara adat ini. (Foto: Humas Pemkab Sleman/Ketik.co.id)

Terpisah, Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Sleman Edy Winarya, Sabtu (4/5/2024) menyampaikan, Mbah Bregas dipercaya sebagai orang pertama yang menghuni pedusunan Ngino dan merupakan pengikut setia Kanjeng Sunan Kalijaga.

Selain mendapat tugas menyebarkan agama di desa Margoagung, Mbah Bregas juga bertugas menjaga keselamatan, ketentraman dan kesejahteraan masyarakat Ngino dan sekitarnya.

Semasa hidupnya Mbah Bregas memiliki kepribadian dan jati diri yang kuat. Kepribadian tersebut nampak memberikan kesan wibawa, lembah manah, andap asor terhadap sesamanya, kesederhanaan dalam pola kehidupan sehari-hari tidak menunjukkan pola hidup yang mewah menyelaraskan dengan kehidupan pedesaan.

Sehingga masyarakat menilai dengan kharisma yang luhur.

"Mbah Bregas sangat dihormati oleh warga Ngino oleh karena itu sampai sekarang masyarakat tetap melaksankan upacara adat tersebut. Serta mengganti namanya menjadi Upacara Adat Mbah Bregas guna mengenang jasa-jasa Mbah Bregas sebagai sesepuh di dusun Ngino," terangnya.

Edy Winarya menyebutkan Upacara Adat Mbah Bregas bersama 25 Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) lainnya, ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia tahun 2021.

Penetapan Upacara Adat Mbah Bregas dalam Domain Adat Istiadat Masyarakat, Ritual Khusus dan Perayaan tersebut disahkan dalam berita acara yang ditanda tangani oleh seluruh Kepala Dinas Kebudayaan se-Indonesia pada tanggal 29 Oktober 2021.

Foto Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo saat hadir memberikan sambutan dalam acara Kirab Budaya dalam rangka Merti Desa ‘Mbah Bregas’. (Foto: Humas Pemkab Sleman/Ketik.co.id)Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo saat hadir memberikan sambutan dalam acara Kirab Budaya dalam rangka Merti Desa ‘Mbah Bregas’. (Foto: Humas Pemkab Sleman/Ketik.co.id)

Lebih jauh ia sampaikan, upacara tradisional merti desa Mbah Bregas memberikan gambaran dan wawasan mengenai etika pola kehidupan masyarakat. Generasi muda dan masyarakat memetri, memahami makna yang terkandung dalam upacara menuju masyarakat tentram, damai dan sejahtera.

Upacara adat ini dilaksanakan satu tahun sekali pada hari Jumat kliwon di bulan Mei. Berlangsung turun temurun (konon) sejak jaman Majapahit oleh Mbah Bergas, meskipun dulu hanya berlangsung dengan sederhana.

Nilai luhur kebersamaan dan kegotong royongan tergambar pelaksanaan upacara tradisional ini dilakukan secara bersama sama seluruh warga masyarakat Ngino, Ngringin dan sekitarnya.

Sebelum upacara seluruh warga masyarakat bekerja secara gotong royong membersihkan lingkungan dan tempat tempat yang dikeramatkan peninggalan Mbah Bregas serta tempat pelaksanaan upacara.

Acara ini dibagi menjadi dua bagian yakni bersih desa dan kirab budaya. Kali ini perwakilan Bregodo dari 12 Padukuhan se-Kalurahan Margoagung dan 11 partisipan dengan total peserta 22 kelompok mengikuti kirab budaya dalam upacara adat ini.

Sementara dalam upacara tahun ini warga masyarakat Margoagung memperebutkan lima buah gunungan yang berisi hasil bumi Kalurahan Margoagung. Ritual ini menjadi atraksi yang menarik bagi masyarakat. Mereka beranggapan bahwa hasil dari perebutan gunungan dan air suci membawa berkah tertentu. (*)

Tombol Google News

Tags:

upacara adat Upacara tradisional budaya Merti Desa Merti Dusun Mbah Bregas Kalurahan Margoagung Kapanewon Seyegan Balai Ringin Mbah Bergas Ngino Pasca panen Bregodo Hasil bumi Dinas Kebudayaan Kundha Kabudayan Pemkab Sleman Warisan Budaya Takbenda WBTb DIY