KETIK, MALANG – Siapa sangka bahwa makhluk hidup berwajah lucu, menggemaskan dan berbulu lembut, bernama kucing pernah dianggap sebagai hewan yang suci di zaman Mesir Kuno.
Latar belakang masyarakat Mesir Kuno sebagai petani membuat mereka harus berhadapan dengan berbagai hama pengganggu tanaman.
Keberadaan kucing cukup mengambil peran penting di sini. Kucing liar dapat menyelamatkan hasil panen dengan menjauhkan hewan yang mengancam hasil panen.
Untuk itu warga sering menyisihkan makanan mereka untuk kucing dan terbentuklah simbiosis mutualisme.
Hubungan tersebut dipercaya dapat berlanjut hingga manusia meninggal. Biasanya orang Mesir akan menggambar hal-hal penting di makamnya. Seringkali gambar kucing termasuk di dalamnya.
Seperti di makam Juru Tulis Nebamun, di sana terdapat lukisan seekor kucing berwarna oren kecoklatan yang sedang menemaninya berburu dan memancing.
Dalam smarthistory.org dijelaskan bahwa kucing tersebut tengah menangkap burung di antara barang papirus. Kucing juga dianggap mewakili Dewa Matahari yang tengah memburu musuh dan pasukannya.
Masyarakat juga mempercayai bahwa dewa-dewa bisa berubah wujud menjadi apapun, termasuk kucing. Tak heran jika mereka menganggap kucing sebagai hewan suci. Kucing dianggap sebagai wadah perwujudan kekuatan dewa.
Seperti Bastet yang merupakan Dewi Mesir Kuno yang berkepala kucing. Masyarakat biasanya memberikan persembahan mumi kucing kepada Bastet. Banyak mumi kucing dengan desain unik pada bagian perban ditemukan di pemakaman di Bubastis dan Saqqara.
Bastet sendiri merupakan putri dari Dewa Matahari Ra, ia juga versi jinak dari Sekhmet yang merupakan singa betina. Beberapa peziarah yang mempersembahkan mumi kucing sering berharap dewa akan menjawab doa-doa mereka. (*)