Forum Bersama Unicef, Ketua ISMI Jatim Yusron Aminulloh Sorot Lemahnya Literasi Finansial Anak Muda

Jurnalis: Siti Fatimah
Editor: M. Rifat

6 Juni 2024 04:31 6 Jun 2024 04:31

Thumbnail Forum Bersama Unicef, Ketua ISMI Jatim Yusron Aminulloh Sorot Lemahnya Literasi Finansial Anak Muda Watermark Ketik
Yusron Aminulloh (tengah), Ketua ISMI Jatim saat memberi tanggapan di Forum Lintas Sektor yang diadakan Unicef dan Ketik Media (Foto: Shinta/Ketik.co.id)

KETIK, SURABAYA – Dalam Forum Diskusi Lintas Sektor yang digelar Unicef Indonesia bersama beberapa pihak salah satunya Ketik Media, Ketua Ikatan Saudagar Muslim Indonesia (ISMI) Jawa Timur menyorot lemahnya literasi finansial yang dimiliki anak-anak muda.

Sorotan ini sebagai tanggapan atas program Double Track yang digagas Dinas Pendidikan Jawa Timur untuk mengurangi angka putus sekolah dan pengangguran lulusan SMA di Jawa Timur.

“Saya mengapresiasi program Double Track Dinas Pendidikan tadi, itu luar biasa. Namun dari program itu kelemahannya satu, anak-anak kita sekarang ini kelemahannya di fundamental finansial. Jadi harusnya ada literasi finansial atau kecerdasan finansial yang diajarkan,” paparnya dalam forum yang bertempat di JW Marriot Surabaya, Rabu (5/6/2024).

Ketua ISMI Jatim ini menceritakan pengalamannya mendampingi pebisnis muda, di mana dua di antaranya adalah presiden BEM ITS. Ia menyebut kedua anak tersebut memiliki kecerdasan luar biasa dan memiliki mentor luar biasa. Namun, ketika membahas soal keuangan mereka lemah.

“Jadi ini saya kira kalau bisa ada materi tentang finansial, minimal basicnya. Itu penting kita kenalkan ke mereka sebab pelajaran soal finansial itu sejak kecil belum diajarkan,” lanjutnya.

Selain itu, Yusron menyorot kedisiplinan anak-anak muda yang dinilai kurang ketika masuk dunia kerja. Problem kedisiplinan inilah yang menjadi hambatan mereka ketika berkecimpung di dunia profesional seperti perusahaan.

Ia juga membeberkan kebiasaan anak muda yang terlalu nge-gas saat melakukan sesuatu. Ambisi yang terlalu kencang ini seringkali membuat mereka kesulitan menghentikan lajunya sehingga bisa berdampak buruk dalam jangka panjang.

“Banyak perusahaan yang membaca ada anak muda usia 30 tahun itu kolaps di usia 3-4 tahun perusahaannya. Kenapa? Karena nge-gasnya kencang banget, dapat investor 200 miliar akhirnya bablas nggak bisa nge-rem,” ungkap Yusron.

Ia berharap problem seperti ini bisa mendapat perhatian dari Unicef maupun sekolah-sekolah agar sejak dini anak diajarkan untuk tahu batas. Tahu kapan harus melaju, kapan harus berhenti demi masa depan mereka. (*)

Tags:

UNICEF Indonesia Yusron Aminulloh Ikatan Saudagar Muslim Indonesia (ISMI) Jawa Timur Forum Diskusi Lintas Sektor