Gen Z Dipandang Bermental Lemah, Ini Kata Dosen Sosiologi Unesa

Jurnalis: Husni Habib
Editor: Mustopa

24 Juni 2024 09:42 24 Jun 2024 09:42

Thumbnail Gen Z Dipandang Bermental Lemah, Ini Kata Dosen Sosiologi Unesa Watermark Ketik
Ilustrasi Gen Z. (Foto: Rihad/Ketik.co.id)

KETIK, SURABAYA – Belakangan ini banyak orang berpandangan Generasi Z atau dengan Gen Z merupakan generasi dengan mental yang lemah. Gen Z merupakan orang yang lahir dalam rentang tahun 1997-2012.

Menanggapi hal itu, dosen sosiologi Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Farid Pribadi S.Sos., M.Sosio menjelaskan bahwa salah satu penyebab mental Gen Z dipandang lemah karena masa tumbuh mereka yang berbarengan dengan perkembangan teknologi khususnya internet.

Dengan perkembangan internet yang pesat pada rentang waktu mereka lahir, Gen Z menjadi jarang melakukan hubungan sosial secara langsung. Hal inilah yang membuat mereka terkesan lebih sensitif karena kurangnya tantangan dari dunia luar.

"Mereka ini kan tumbuhnya bersamaan dengan perkembangan internet atau dunia digital. Sehingga hal ini mengurangi mereka dalam melakukan relasi sosial dan hal ini akhirnya mempengaruhi SDM dan kemampuan berpikir mereka," jelas Farid kepada Ketik.co.id.

Farid menambahkan, dalam dunia kerja, kemampuan SDM dan berpikir sangat menentukan bagaimana Gen Z bersaing untuk mendapatkan pekerjaan. Saat ini dunia kerja sedang menuju modernisasi dengan pengguaan teknologi yang memudahkan.

Hal ini juga akan menggerus keberadaan lapangan pekerjaan, di mana Gen Z tentu harus bersaing lebih keras dengan generasi lain, seperti contoh generasi millenial. 

"Hal-hal yang berkaitan dengan mental tadi juga berhubungan dengan dunia kerja. Bagaimana nantinya mereka menjawab tantangan dan perubahan yang ada," tambahnya.

"Belum lagi pangsa pasar yang kian berkurang karena teknologi. Hal inilah yang juga membuat banyaknya pengangguran di kalangan Gen Z," sambungnya.

Untuk mengatasi hal tersebut memang diperlukan sinergi kerja sama antar stakeholder, bukan hanya pemerintah, tetapi juga dunia usaha dan akademisi.

Selain itu, bagi Gen Z juga penting untuk membekali diri dengan soft skill atau ketrampilan lain yang akan menambah nilai jual mereka.

Pemanfaatan teknologi pun harus bijak, di mana internet atau digitalisasi harus dimanfaatkan untuk mencari pengetahuan dan membangun relasi dengan banyak orang.

Hal ini penting agar mereka bisa memiliki kecerdasan emosi yang baik, terutama saat masuk di dunia kerja.

"Saya sebagai dosen sosiologi selalu memberikan wejangan kepada mahasiswa saya, jangan jadi mahasiswa Kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang)," paparnya.

"Manfaatkan waktu di universitas untuk mengasah soft skill baik itu organisasi maupun UKM. Bisa juga lewat seminar-seminar untuk menambah nilai jual," lanjutnya.

Farid memandang perlu dilakukan perubahan dalam mindset masyarakat di mana pendidikan formal baik SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi itu mencetak lulusannya hanya sebagai pencari kerja.

Padahal seperti yang diketahui rasio antara ketersediaan lowongan dan lulusan itu sangat tidak seimbang. Oleh sebab itu sebagai generasi yang akrab dengan teknologi Gen Z diharapkan dapat menjadi generasi pencetak lapangan kerja.

"Justru dengan akrabnya Gen Z pada teknologi mereka harusnya bisa menciptakan lapangan kerja. Instansi pendidikan pun harus saat ini sudah beralih dari mencetak pencari kerja menjadi pencetak wirausaha," pungkasnya.(*)

Tags:

Sosiologi Gen Z mental health Unesa Farid Pribadi teknologi Persaingan Kerja