Ini Sosok Ahmad Talkhis, Wisudawan Terbaik UINSA yang Raih IPK Sempurna

Jurnalis: Siti Fatimah
Editor: Mustopa

4 Februari 2024 07:46 4 Feb 2024 07:46

Thumbnail Ini Sosok Ahmad Talkhis, Wisudawan Terbaik UINSA yang Raih IPK Sempurna Watermark Ketik
Ahmad Talkhis, wisudawan terbaik UINSA ketika ditemui Ketik.co.id di gedung Fakultas Tarbiyah (Foto: Aisyah/Ketik.co.id)

KETIK, SURABAYA – Ahmad Talkhis Alfatawi, berhasil menjadi wisudawan terbaik Uinsa dengan IPK 4,0 pada prosesi Wisuda ke-105 & 106 UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA), Sabtu (3/2/2024).

Prestasi ini tentu saja membuat banyak orang berdecak kagum. Pasalnya, mahasiswa pascasarjana ini mendapatkan IPK sangat sempurna yang diidam-idamakan semua mahasiswa.

Bagaimana sosok pria yang akrab disapa Talkhis ini? Mari berkenalan lebih dekat!

Bukan Pertama Kali

Menjadi wisudawan terbaik UINSA bukanlah pertama kali diraihnya. Sebelumnya, pria bergelar Magister Pendidikan ini pernah menyabet prestasi terbaik 1 Prodi Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Ampel Surabaya.

“Alhamdulillah waktu S-1 dulu saya mendapat terbaik prodi 1, bukan terbaik fakultas, tapi terbaik prodi dengan IPK 3.56,” tuturnya ketika ditemui Ketik.co.id di gedung Fakultas Tarbiyah UINSA, Sabtu (3/2/2024).

Saat menjadi mahasiswa S-1, Talkhis juga pernah mendapat beasiswa Study Exchange ke Universitas Ain Shams, Kairo Mesir bersama 4 orang mahasiswa Uinsa lainnya.

“Tahun 2019 kemarin, Alhamdulillah saya dapat Study Exchange ke Mesir, di Ain Shams University, Kairo selama satu semester atau setengah tahun,” ungkap pria 26 tahun itu.

Deretan prestasi ini tidak hanya berhasil ia dapatkan di Uinsa saja. Ketika masih di bangku tsanawiyah (SMP) dan aliyah (SMA), Talkhis termasuk siswa berprestasi di sekolahnya.

Alumni Pesantren Mamba’ul Hikam, Tanggulangin dan Pesantren Sunan Drajat Pandaan ini beberapa kali mendapatkan peringkat-peringkat membanggakan. Karena itulah kemampuannya di bidang akademik sudah tidak diragukan lagi.

“Kalau dulu di pondok ya, banyaklah peringkat-peringkat gitu ada waktu aliyah dan tsanawiyah,” terang mantan Ketua Hima Prodi Bahasa Sastra Arab ini.

Foto Talkhis saat mengikuti Study Exchange di Mesir tahun 2019 (Foto: Instagram Talkhis)Talkhis saat mengikuti Study Exchange di Mesir tahun 2019 (Foto: Instagram Talkhis)

Suka Bahasa Arab dan Nahwu Shorof

Pengalaman nyantri selama 6 tahun ini membuatnya lebih menguasai ilmu-ilmu agama daripada ilmu umum. Salah satunya, Bahasa Arab dan Nahwu Shorof.

Kecintaannya pada bahasa Al-Qur’an ini sudah tertanam sejak kecil dari keluarganya. Ia tumbuh dan besar di lingkungan pesantren yang sudah mengajarkan Al-Qur’an, dan ilmu agama lainnya.

“Jadi dari kecil sudah diajarkan Al-Qur’an, qiroati, dan nahwu. Lalu, saya mondok jadi suka nahwu dan analisisnya,” paparnya.

Ketika di pondok, lanjutnya, ia juga pernah mengikuti program Bahasa Arab selama tiga tahun. Jadi kemampuannya semakin terasah hingga mengantarkannya menjadi wisudawan terbaik Uinsa.

“Saya nggak pernah ikut kursus. Di pondok sudah ada program bahasa selama tiga tahun pas aliyah itu, selebihnya dari kebiasaan ngaji kitab kuning, nahwu, liat-liat video debat Bahasa Arab, kaya gitu,” ungkap tutor Bahasa Arab di UINSA ini.

Baginya, bahasa Arab adalah bahasa yang paling kaya. Artinya, satu katanya saja bisa memiliki banyak makna. Ia menyebut ada sekitar puluhan ribu kosa kata didalamnya. Itulah yang menjadi alasan mengapa ia suka belajar Bahasa Arab.

Suluk Saat Menuntut Ilmu

Saat menimba ilmu, Talkhis sangat berpegang teguh pada salah satu hadis Nabi Saw tentang keutamaan menuntut ilmu.

“Kalau saya berpegang pada hadis man salaka thoriiqon yaltamisu fihi ilman sahhalallhu lahu thariiqan ilal jannah. Jadi  siapapun yang menuntut ilmu, Allah akan memudahkan jalannya menuju surga,”  ungkap alumni Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Pasuruan itu.

Ia juga menyebut pentingnya memiliki sikap suluk saat menuntut ilmu. Suluk merupakan sebuah usaha untuk menuju Tuhan. Dalam hal ini, suluk bisa diartikan sebagai usaha seseorang saat menuntut ilmu.

“Karena suluk ya, suluk itu berusaha ya biaya, waktu, dan lain-lain. Yang penting yaltamisu (mencari), makanya kenapa kalau kita ngaji nahwu itu pakai fi’il mudhori’ itu kan artinya terus-terusan. Jadi usaha terus menerus,” terang wisudawan yang mengambil kajian semiotik pada tesisnya itu.

Mengutip dawuh KH. Husein Muhammad, ia berpesan jangan sampai kita membiarkan hari-hari tanpa membaca, tanpa belajar, tanpa menulis meskipun idenya masih kosong dan tulisannya belum sempurna.

“Penting juga tidak puas dengan apa yang kita dapatkan. Intinya ngaji-ngaji, saya kan santri, jadi ngaji,” lanjutnya.

Riwayat Pendidikan

  • MIN 1 Pasuruan
  • MtsN Pandaan
  • Madrasah Aliyah Mamba'ul Hikam, Putat, Tanggulangin, Sidoarjo
  • S-1 Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, UINSA
  • S-2 Magister Pendidikan Bahasa Arab, UINSA.(*)

Tombol Google News

Tags:

Wisudawan terbaik Uinsa Ahmad Talkhis Magister Pendidikan Bahasa Arab UIN Sunan Ampel Surabaya Mahasiswa Berprestasi Uinsa