Melihat Gagasan Persatuan Nusantara dari Raja Kertanegara Melalui Mandala Dwipantara

Jurnalis: Lutfia Indah
Editor: Gumilang

14 April 2024 09:30 14 Apr 2024 09:30

Thumbnail Melihat Gagasan Persatuan Nusantara dari Raja Kertanegara Melalui Mandala Dwipantara Watermark Ketik
Ragam hias Kerajaan Singasari dengan salah satu rajanya ialah Kertanegara yang membawa visi politik Mandala Dwipantara. (Foto: arkenas.kemdikbud.go.id/)

KETIK, MALANG – Ambisi untuk mempersatukan kerajaan-kerajaan di kepulauan Nusantara untuk pertama kalinya ternyata tidak muncul dari Sumpah Palapa milik Maha Patih Gajah Mada dari Kerajaan Majapahit. Gagasan tersebut sudah muncul pada masa Kerajaan Singasari di bawah kepemimpinan Raja Kertanegara.

Melansir tulisan Anom B Prasetyo bertajuk Mandala Dwipantara: Gagasan Kertanegara dalam Sumpah Palapa yang diterbitkan oleh Nusantara Institute, Sumpah Palapa sejatinya ialah lanjutan dari Mandala Dwipantara yang diusung oleh Raja Kertanegara.

Kertanegara tak segan merombak struktur pemerintahan besar-besaran bagi mereka yang tak selaras dengan visi politiknya. Untuk mewujudkan ambisi itu, ia mengirim pasukan untuk melakukan Ekspedisi Pamalayu bertujuan menjalin persahabatan dengan kerajaan-kerajaan di Tanah Melayu. Kertanegara berniat untuk menyatukan seluruh kerajaan di Kepulauan Nusantara di bawah panji Singasari.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang, Suwarjana menjelaskan ada konsep yang dibawa dalam Cakrawala Mandala Dwipantara. Di antaranya abhaya (keamanan), wrĕddhi adhigama (pengembangan pengetahuan), sugati (perlindungan), serta (kesejahteraan), anuraksa pachattra (pengayoman) bagi parasangghya (seluruh masyarakat) ring bhumi mandala Singhasari.

“Cakrawala Mandala Dwipantara, sebuah gagasan besar yang berakar dari salah satu kerajaan yang pernah eksis di Jawa Timur, terpusat di wilayah Malang Raya. Gagasan ini membawa kemegahan sejarah, mengekplorasi tata negara klasik dan menembus batas geografi dari gugusan kepulauan yang menjadi sumber inspirasi bagi Indonesia modern," ujarnya.

Menurutnya gagasan tersebut menjadi perwujudan bahwa peradaban Jawa Kuno tidak terisolasi dan berkembang secara dinamis hingga berhasil membangun interaksi dengan peradaban dunia.

Hingga pada 1284 M, beberapa kerajaan berhasil ditaklukan, mulai dari Bari, Pahang dan Gurun di Semenanjung Melayu, Tanjungpura di Kalimantan, hingga beberapa kerajaan di timur Nusantara.

Visi politik Kertanegara tak hanya membawanya pada masa kejayaan Kerajaan Singasari namun juga mengantarkannya pada kehancuran. Akibat pemberhentian dan mutasi para pejabat penting Singasari di awal masa kepemimpinannya, memunculkan dendam serta bibit pemberontakan hingga kudeta oleh Prabu Jayakatwang.

Sepeninggalan Raja Kertanegara dan keruntuhan Kerajaan Singasari, Mandala Dwipantara kemudian diadopsi oleh Mahapatih Gajah Mada dalam ikrar Sumpah Palapa. Bahkan Gajah Mada membuatkan sebuah prasasti yang dipersembahkan kepada Kertanegara. Prasasti tersebut dikenal dengan Prasasti Gajah Mada. (*)

Tombol Google News

Tags:

Nusantara Raja Kertanegara Kerajaan Singasari Mandala Dwipantara Mahapatih Gajah Mada Kerajaan Majapahit Sumpah Palapa