Menengok Labuhan Merapi 2024, Tradisi Rutin Peringati 36 tahun Kenaikan Tahta Sri Sultan Hamengkubuwono X

Jurnalis: Fajar Rianto
Editor: M. Rifat

14 Februari 2024 21:25 14 Feb 2024 21:25

Thumbnail Menengok Labuhan Merapi 2024, Tradisi Rutin Peringati 36 tahun Kenaikan Tahta Sri Sultan Hamengkubuwono X Watermark Ketik
Kenduri di Kinahrejo merupakan rangkaian upacara Labuhan Merapi (12/4/2024). (Foto: Fajar Rianto/Ketik.co.id)

KETIK, YOGYAKARTA – Keraton Yogyakarta, baru saja menggelar Hajad Dalem Labuhan Merapi. Kegiatan yang berlangsung Senin (12/2/2024) ini merupakan tradisi rutin tahunan dalam rangka memperingati Tingalan Jumenengan Dalem atau ulang tahun kenaikan tahta Sri Sultan Hamengkubuwono X sebagai raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Ketik.co.id berkesempatan mengikuti upacara adat ini secara langsung. Berikut rangkumannya.

Hajad Dalem Labuhan merupakan salah satu tradisi yang sudah ada sejak zaman Kerajaan Mataram Islam pada abad ke XVII. Sedangkan maksud upacara ini agar negara dan rakyatnya senantiasa dalam keadaan selamat, tenteram dan sejahtera.

Disebut Hajad Dalem karena adat ini atas kehendak Sri Sultan beserta para kerabat Keraton Yogyakarta. Meski penyelenggara upacara ini adalah pihak Keraton. Namun dalam pelaksanaannya upacara adat ini melibatkan masyarakat.

Labuhan sendiri berasal dari kata 'labuh', artinya membuang, meletakkan, atau menghanyutkan. Maksud dari Labuhan adalah sebagai doa dan pengharapan untuk membuang segala macam sifat buruk.

Pada pelaksanaannya, Keraton Yogyakarta melabuh benda-benda tertentu yang disebut sebagai Uborampe Labuhan. Pada masa kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Hajad Dalem Labuhan tidak diselenggarakan untuk memperingati hari Penobatan atau Jumenengan Dalem. Melainkan untuk memperingati Hari Ulang Tahun Sultan atau Wiyosan Dalem berdasarkan kalender Jawa.

Uborampe labuhan yang akan dilabuh di tempat-tempat tertentu (petilasan, red) beberapa diantaranya merupakan benda-benda milik Sultan yang bertahta.

Foto Pagelaran wayang kulit semalam suntuk menghadirkan dalang Ki Sancoko Hadiprayitno, yang membawakan lakon “Pandawa Sesaji Hargo” mewarnai Labuhan Merapi 2024. (Foto: Fajar Rianto / Ketik.co.id)Pagelaran wayang kulit semalam suntuk menghadirkan dalang Ki Sancoko Hadiprayitno, yang membawakan lakon “Pandawa Sesaji Hargo” mewarnai Labuhan Merapi 2024. (Foto: Fajar Rianto/Ketik.co.id)

Menurut Juru Kunci Gunung Merapi Mas Wedono Surakso Hargo, tradisi Labuhan Merapi digelar setiap tahun sesuai esensinya yaitu berharap perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan berharap tidak ada keburukan. Ia sebutkan, Labuhan Merapi 2024 untuk memperingati 36 tahun Tingalan Jumenengan Dalem (Ulang Tahun Kenaikan Takhta) Sri Sultan Hamengku Buwono X.

"Prosesi labuhan ini bermakna berdoa memohon kepada Yang Maha Kuasa untuk meminta keselamatan di wilayah lereng Merapi pada khususnya dan DIY pada umumnya," terang anak alm. mbah Maridjan (Jurukunci Gunung Merapi sebelumnya) ini.

Hajad Dalem Labuhan tahun 2024 bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ke-36 Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X. Dalam prosesnya pada Sabtu Pahing 29 Rejeb 1957 JA atau 10 Februari 2024, bertepatan kenaikan Tahta (Tingalan Jumenengan Dalem) Sri Sultan Hamengku Buwono X digelar upacara Sugengan di Tratag Bangsal Kencana yang dipimpin GKR Mangkubumi. Setelah prosesi Sugengan, dilakukan pemindahan Ubarampe dari Gedhong Prabayeksa menuju Bangsal Srimanganti untuk diinapkan semalam sebelum dilabuh keesokan harinya.

Berikutnya pada Minggu pagi (12/2/2024) ubarampe labuhan diserahkan oleh KPH Wironegoro, KPH Purbodiningrat, KPH Notonegoro, dan KPH Yudanegara kepada utusan Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengkubuwono X untuk diberangkatkan menuju Pantai Parangkusumo, Gunung Merapi, dan Gunung Lawu.

Hajad dalem Labuhan Parangkusumo dilakukan Sabtu (11/2/2024) di Cepuri Parangkusumo - Segara Parangkusumo dan terbuka untuk umum. Sedangkan Hajad Dalem Labuhan Lawu dilaksanakan Senin(12/2/2024) di Soeryakencana Gunung Lawu - Hargo Dalem Puncak Gunung Lawu. Pelaksanaan upacara Labuhan di Gunung Lawu Karanganyar, Jawa Tengah ini tertutup untuk umum.

Sementara upacara labuhan di Gunung Merapi dilakukan Senin Wage 1 Ruwah 1957 JA Tanggal 12 Pebruari 2024. Tempat petilasan Mbah Maridjan - Pos Bedhengan - Pos Srimanganti Gunung Merapi, dan terbuka untuk umum.

Foto Bertempat di pos Sri Menganti gunung Merapi inilah prosesi utama Labuhan Merapi dilakukan. (Foto: Fajar Rianto / Ketik.co.id)Bertempat di pos Sri Menganti gunung Merapi inilah prosesi utama Labuhan Merapi dilakukan. (Foto: Fajar Rianto/Ketik.co.id)

Dalam prosesnya, uborampe labuhan Merapi dari Keraton Yogyakarta singgah terlebih dahulu ke kantor Kapanewon Depok baru di bawa ke Kapanewon Cangkringan. Di tempat ini  Ubarampe Labuhan diterima Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo kemudian diserahterimakan kepada juru kunci Gunung Merapi Mas Wedono Surakso Hargo.

Berikutnya Uborampe Labuhan di arak atau dikirabkan menuju petilasan mbah Maridjan di dusun Kinahrejo. Sampai sini ada upacara serahterima gunungan Panyekuyung Labuhan dari warga lereng Merapi yang diserahkan oleh Lurah Umbulharjo, Cangkringan, Danang Sulistya Haryana kepada Mas Wedono Surakso Hargo atau mbah Asih selaku Juru Kunci Gunung Merapi.

Rangkaian acara di Kinahrejo mengangkat tema “Rahayuning Bawana Gumantung Pakartining Janma“. Selain dimeriahkan penampilan fragmen. Juga dilakukan rebutan berkah gunungan.

Sedangkan malam harinya dilakukan kenduri, pementasan Tari Pudyastuti, doa bersama. Serta pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan dalang Ki Sancoko Hadiprayitno, yang membawakan lakon “Pandawa Sesaji Hargo”. 

Selain sejumlah tokoh masyarakat Sleman, Kegiatan ini juga dihadiri pejabat Pemda DIY diantaranya Plt. Kepala Pelaksana BPBD DIY, Noviar Rahmad dan Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi.

Baru pada hari Senin pagi (12/02/2024), pukul 06.40 WIB  Uborampe Labuhan diarak berjalan kaki kurang lebih 2,45 km jauhnya. Berangkat dari petilasan mbah Maridjan di dusun Kinahrejo menanjak naik mengarah ke tubuh Gunung Merapi menuju ke Pos Bedengan untuk prosesi doa sebentar. Baru dilanjutkan ke  Sri Manganti, pada ketinggian 1.550 mdpl.

Kurang lebih memakan waktu tempuh 1,5 - 2 jam perjalanan. Bertempat di pos Sri Manganti inilah prosesi utama Labuhan Merapi dilakukan. Mulai ritual, doa serta pembagian nasi berkat, yang berlangsung hingga sekitar pukul 09.30 WIB.

Dalam kesempatan ini Ubarampe Labuhan ditunjukkan satu per satu dan disebutkan namanya di hadapan para peserta Labuhan oleh abdi dalem yang bertugas. Yakni berupa Peningset Udaraga, Desthar Daramuluk, Kampuh Poleng Ciut, Semekan Bangun Tolak, Semekan Gadung Mlati, Semekan Gadung, Nyamping Kawung Kemplang, Nyamping Cangkring. Serta ses (rokok) wewangen dan Arta Tindih.

Puncaknya Juru kunci Gunung Merapi, Mas Wedono Surakso Hargo yang memimpin acara membacakan doa. Seusai prosesi labuhan, dibagikan nasi gurih kepada ratusan orang dari berbagai daerah yang ikut dalam acara labuhan Merapi tersebut. Oleh peserta nasi gurih yang dikemas dalam plastik kecil tersebut ada yang kemudian disantap atau ada juga yang kemudian disimpan untuk digunakan menurut keyakinan mereka.

Kegiatan tersebut berlangsung lancar dalam koordinasi dan pengawalan dari BPPTKG, Basarnas Yogyakarta, BPBD DIY, Sarda DIY,  Taman Nasional Gunung Merapi, Pramuka Peduli Kwarcab Sleman dan unsur terkait lainnya ditengah status Merapi level III (siaga). Terpantau ratusan peserta termasuk para wisatawan baik domestik maupun mancanegara mengikuti jalannya Labuhan Merapi dengan khidmad. Sekembalinya turun ke Kinahrejo mereka di jamu makan siang dan disediakan minuman tradisional.(*)

Tags:

Hajad Dalem Keraton Yogyakarta Labuhan Merapi 2024 Kinahrejo Jurukunci Gunung Merapi Mas Wedono Surakso Hargo Sri Manganti.