Menjadi Pribadi Lapar dan Haus Ilmu

Editor: Mustopa

12 Maret 2024 10:52 12 Mar 2024 10:52

Headline

Thumbnail Menjadi Pribadi Lapar dan Haus Ilmu Watermark Ketik
Oleh: Mohammad Hairul*

Setiap kita terlahir dalam keadaan lapar dan haus. Bukan semata pada makna lapar makanan dan haus minuman, tetapi juga dalam hal pengetahuan dan kebijaksanaan. Rasa lapar dan haus ilmu adalah dorongan alamiah yang mendorong kita untuk terus belajar, menjelajahi dunia, dan memperluas pemahaman tentang kehidupan. 

Lapar ilmu dapat dimaknai sebagai keinginan yang tidak terbatas untuk menyerap pengetahuan dari lingkungan sekitar. Ketika seseorang merasa lapar ilmu, ia menjadi penjelajah pengetahuan yang tidak kenal lelah. Mulai dari membaca buku, mengikuti kursus, hingga berdiskusi dengan orang-orang berpengetahuan. Lapar ilmu menjadi pendorongan yang akan membawa kita ke arah pemahaman yang lebih dalam.

Sedangkan haus ilmu dimaknai sebagai keinginan untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam dan berkelanjutan. Sama seperti seseorang yang haus akan minuman ketika merasa dahaga, haus ilmu membawa seseorang pada pencarian pengetahuan yang memuaskan. Haus ilmu mendorong kita untuk menggali lebih dalam, merenung, dan memahami konteks serta implikasi dari informasi yang diperoleh.

Ketika rasa lapar dan haus ilmu bersatu, kita akan mengalami perjalanan yang membentuk kebijaksanaan. Pengetahuan yang diperoleh dari lapar ilmu memberikan dasar yang kuat, sementara haus ilmu memberikan semangat untuk menjelajahi sudut-sudut gelap pengetahuan yang belum terjamah. Kedua elemen ini saling melengkapi, membentuk individu yang bijaksana dan penuh wawasan.

Pribadi yang lapar dan haus ilmu terus melakukan pengembangan diri berkelanjutan. Terus belajar untuk memiliki kemampuan adaptasi terhadap perubahan. Menjadi problem-solver yang handal dalam mengatasi masalah. Selain pengetahuan, ia juga berbekal keterampilan analitis dalam menghadapi tantangan. Ia terbuka terhadap pendapat dan pandangan berbeda. Menjadi pribadi yang inklusif dan toleran.

Di era digital dengan arus informasi melimpah, ada kecenderungan seseorang mengalami overwhelmed. Suatu kondisi psikologis yang menyebabkan seseorang tidak berpikir secara rasional untuk menyelesaikan aktivitas tertentu. Dalam bahasa Indonesia, overwhelmed artinya kewalahan. Pribadi yang lapar dan haus ilmu menghadapi tantangan tersendiri dalam kondisi demikian. Ia harus mampu menyeimbangkan antara tahap mendapatkan ilmu, memilah dan menyaringnya, serta memahami cara menjadikannya bermanfaat. 

Lapar dan haus ilmu mengajarkan kita bahwa kehidupan adalah perjalanan tanpa akhir. Targetnya adalah menuju pemahaman yang lebih dalam. Melalui kombinasi keinginan untuk belajar dan rasa ingin tahu yang tak terbatas, kita dapat merasakan nikmatnya lapar dan haus ilmu. Tahapan yang akan mengantarkan kita menjadi individu yang bijaksana dan penuh wawasan. Menjadi pribadi sebaik-baik manusia, yaitu yang dapat memberikan manfaat sebaik-baiknya bagi sekitar.

Dalam perjalanan menikmati rasa lapar dan haus ilmu, keindahan sejati terletak pada proses belajar itu sendiri. Setiap tantangan, kegagalan, dan pencapaian kecil dimaknai sebagai tahapan membentuk fondasi pemahaman yang mendalam. Mengapresiasi setiap langkah dalam perjalanan ilmu adalah kunci untuk menikmati keindahan proses belajar. 

Dalam perkembangannya, rasa lapar ilmu menjadi daya dorong bagi tumbuhnya kreativitas. Ditambah rasa haus ilmu yang akan memantik upaya menemukan ide-ide baru, menghubungkan konsep-konsep yang belum pernah terpikirkan sebelumnya, dan menciptakan solusi inovatif. Pada tahap demikian, rasa haus ilmu akan menjadi katalisator bagi inovasi yang membawa perubahan positif dalam berbagai bidang.

Bermodalkan pemahaman keilmuan yang mendalam, seseorang akan tertantang untuk memberdayakan dirinya dan orang lain. Rasa lapar ilmu akan membuka pintu gagasan untuk memahami dunia sekitar, mengenali permasalahan, dan mencari solusi. Dengan pemahaman yang kuat, kita akan dapat mengambil keputusan yang bijaksana dan memberikan kontribusi yang berarti bagi masyarakat.

Rasa haus ilmu akan berfungsi seperti kompas yang membimbing kita dalam melintasi lautan pengetahuan. Dengan tekad yang kuat, kita dapat menjelajahi bidang-bidang baru, mengeksplorasi budaya yang berbeda, dan memperluas wawasan. Haus ilmu memacu pertumbuhan pribadi dan menginspirasi keinginan untuk terus berpetualang.

Dalam perjalanan menikmati rasa lapar dan haus ilmu, figur inspiratif memiliki peran penting. Keberadaan mereka menjadi sumber motivasi, memberikan contoh kesuksesan melalui dedikasi mereka pada ilmu. Dengan mengamati perjalanan mereka, kita dapat menemukan kekuatan untuk melanjutkan ketika kepenatan dan kebingungan datang.

Melalui lapar dan haus ilmu, kita berkontribusi pada penciptaan warisan pengetahuan. Pemahaman yang diperoleh tidak hanya bermanfaat untuk diri sendiri, tetapi juga bagi generasi yang akan datang. Dengan cara ini, setiap individu menjadi bagian dari rantai panjang pembangunan ilmu dan kebijaksanaan umat manusia.

Dalam dunia yang terus berubah dengan cepat, rasa lapar dan haus ilmu memainkan peran kunci dalam menanggapi perubahan. Kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi membantu kita untuk tetap relevan dan berkembang di tengah dinamika masyarakat dan teknologi. Lapar ilmu menjadi pendorong perubahan, sementara haus ilmu memastikan bahwa perubahan tersebut membawa dampak positif.

*) Mohammad Hairul adalah Kepala SMPN 1 Curahdami, Bondowoso, Jawa Timur. Instruktur Nasional Literasi Baca-Tulis, dan Peraih Penghargaan Literacy Award dari Baznas dan Republika.

 **) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis

***) Karikatur by Rihad Humala/Ketik.co.id

****) Ketentuan pengiriman naskah opini:

  • Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.co.id.
  • Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
  • Panjang naskah maksimal 800 kata
  • Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
  • Hak muat redaksi.(*)

Tags:

opini Mohammad Hairul Menjadi Pribadi Lapar dan Haus Ilmu