Revitalisasi Apel Kota Batu Tunggu Hasil Kajian Perguruan Tinggi

Jurnalis: Sholeh
Editor: Mustopa

4 Maret 2024 19:00 4 Mar 2024 19:00

Thumbnail Revitalisasi Apel Kota Batu Tunggu Hasil Kajian Perguruan Tinggi Watermark Ketik
PJ Wali Kota Batu Aries Agung Paewai. (Foto: Sholeh/ketik.co id)

KETIK, BATU – Berbagai upaya dilakukan Pemkot Batu untuk merevitalisasi apel. Sebagai salah satu ikon Kota Batu, apel terus dipertahankan di tengah keputusasaan petani dari serangan hama.

Pj Wali Kota Batu Aries Agung Paewai mengatakan, pihaknya telah bekerjasama dengan perguruan tinggi dalam revitalisasi apel. Kerjasama itu meliputi penelitian kontur tanah, sarana prasarana hingga pengadaan pupuk organik.

"Itu sudah dilakukan kajian oleh akademisi. Oleh karena itu, kajian ini akan dimassifkan pemetaan. Peta itu untuk mengetahui kebutuhan bagi lahan apel itu sendiri," urainya, Senin (4/3/2024).

Pemetaan itu juga bertujuan untuk mengetahui jumlah apel yang dihasilkan oleh petani dari tahun ke tahun. Menurut Aries, jika telah diketahui hasilnya maka pemerintah bisa mengevaluasi kendala pertanian apel.

"Nanti kita bisa melihat dari tahun ke tahun. Misalnya tahun ini 4 ton, berarti kita bisa evaluasi kekurangan untuk bisa mencapai 6 ton," tambahnya.

Aries tidak menampik bahwa saat ini lahan apel di Kota Batu terus menyusut. Banyak petani apel yang beralih ke jeruk karena mereka menilai lebih mudah untuk pemeliharaan dan lebih cepat panen.

Kendati demikian, ia berharap tetap ada penambahan lahan apel baru di Kota Batu.

"Mereka (petani) melihat potensi jeruk bagus. Tetapi tidak menghilangkan sektor apel. Kita tetap menginginkan pembukaan lahan, contoh di Desa Sumberbrantas Bumiaji yang kita minta," urainya.

Sebelumnya, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Batu menganggarkan Rp 800 juta untuk revitalisasi apel di tahun 2024.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Batu, Heru Yulianto mengatakan, anggaran itu untuk pengadaan sarana produksi, mulai bibit apel hingga pupuk. 

"Tahun ini kita ada anggaran revitalisasi apel ya. Sebesar Rp 800 juta," katanya.

Menurutnya, anggaran tersebut akan dibagikan ke sejumlah kelompok tani. Dengan harapan, petani semakin semangat untuk mempertahankan keberadaan apel sebagai salah satu ikon Kota Batu sejak lama.

"Ini khusus untuk revitalisasi apel. ada beberapa kelompok tani yang kita gelontorkan bantuan. Biasanya Rp 100 juta untuk mengkover lahan 10 hektar," jelasnya.

Pemkot Batu terus berupaya mempertahankan apel sebagai ikon Kota Batu. Meskipun, luasan lahan kebun apel di Kota Wisata tersebut dari tahun ke tahun mengalami penyusutan.

Dari data Dinas Pertanian Kota Batu, pada tahun 2023 lahan apel hanya tersisa 1.044 hektare. Sedangkan pada pada tahun 2020, perkebunan apel di Kota Batu seluas 1.200 hektare, kemudian pada tahun 2022 berkurang menjadi 1.092 hektare.(*)

Tags:

Kota Batu Apel revitalisasi apel ikon Kota Batu