Unik, Pengunjung Harus Tukar Uang dengan Kepingan Kayu Agar Bisa Beli Makanan di Pasar Lawasan Surabaya

Jurnalis: Samsul HM
Editor: Mustopa

3 Maret 2024 17:55 3 Mar 2024 17:55

Thumbnail Unik, Pengunjung Harus Tukar Uang dengan Kepingan Kayu Agar Bisa Beli Makanan di Pasar Lawasan Surabaya Watermark Ketik
Budi, pengelola pasar Lawasan, Ndorowati, Lidah Wetan, sedang melayani ibu-ibu yang menukar uang dengan kepinan. Foto Ara : For Ketik.co.id

KETIK, SURABAYA – Pasar Lawasan yang menjual berbagai kuliner tradisional khas Surabaya kini digelar di kampung Ndonowati, Lidah Wetan . Pasar yang hanya buka hari Sabtu dan Minggu kini menjadi tujuan jalan-jalan warga kota di pagi hari. 

Jenis kuliner di Pasar Lawasan terdiri dari berbagai kue basah. Misalnya, kue lapis, nogosari, cendol lengkap dengan bubur dan ditambah centik, gado-gado, rujak uleg/cingur, semanggi Surabaya, serta nasi sayur lodeh. 

Di pasar ini juga dijual berbagai jenis mainan anak-anak. Ada juga salah satu tempat bermain anak- anak tempo dulu. Di salah satu sudut pasar Lawasan ada stand gerabah, yaitu alat dapur zaman dulu, misalnya tempat nasi, cobek, erus dan lain lain. 

Pasar kuliner Lawasan di kampung Ndonowati tersebut juga sama seperti di lantai dasar Pasar Blauran. Pasar Blauran yang legendaris itu juga tersedia berbagai jenis kuliner. Pedagang di pasar kuliner Blauran buka setiap hari mulai pukul 07.00 hingga hingga pukul 21.00 WIB. 

Foto Salah satu stand di pasar Lawasan, Ndorowati, Lidah Wetan sedang melayani pembeli (Foto Ara For Ketik.co.id)Salah satu stand di pasar Lawasan, Ndorowati, Lidah Wetan sedang melayani pembeli (Foto Ara For Ketik.co.id)

Pantauan Ketik.co.id, Minggu (03/03/24) pagi, pasar Lawasan ramai dikunjungi warga Kota Surabaya. Selain rombongan keluarga, juga beberapa peseda sempat menikmati berbagai jenis kuliner tradisional di pasar Lawasan. 

Lokasi Pasar Lawasan tersebut letaknya tidak jauh dari gerbang pintu masuk Universitas Surabaya (Unesa). Dari waduk Unesa ke arah selatan, masuk gang kampung Ndonowati.

Pengelola pasar Lawasan tersebut mempunyai keunikan dalam melayani calon pembeli. Pengunjung diwajibkan menukarkan sejumlah uang dengan kepingan (koin) yang terbuat dari kayu, bentuknya bulat seperti uang logam kuno. 

Satu kepingan bisa ditukar dengan uang Rp2 ribu. Sistem pembelian kuliner tanpa uang tunai ini hampir mirip dengan kegiatan bazar yang diadakan di Surabaya. 

Pembeli di bazar harus menukarkan uang dengan kupon yang telah disediakan panitia. Nah, setelah mendapatkan kepingan tersebut, pengunjung bisa menukarkan keeping koin dengan jenis kuliner yang disukai.

Pengunjung pasar Lawasan harus rela antre untuk menukarkan uang dengan kepingan kayu. Bahkan pengunjung harus berdesak-desakan.

Harga kuliner di pasar Lawasan ini tidak terlalu mahal untuk ukuran warga Surabaya. Misalnya harga nogosari hanya Rp 2 ribu.

Pengunjung setelah memilih kuliner dan kue tradisional bisa menikmati di dalam pasar tersebut. Ada halaman luas yang banyak ditumbuhi pohon pisang. 

Di halaman tersebut disediakan tempat duduk, sehingga pengunjung bisa santai menikmati sarapan pagi di pasar Lawasan.

Foto Suasana pengunjung di pasar Lawasan, Ndorowati, Lidah Wetan (Foto Ara For Ketik.co.id)Suasana pengunjung di pasar Lawasan, Ndorowati, Lidah Wetan (Foto Ara For Ketik.co.id)

Budi Kiswono mengatakan, Pasar Lawasan ini diinisiasi tujuh orang yang tinggal di kampung. Biayanya berasal dari kantong pribadi.

“Pasar Lawasan dibuka hanya hari Sabtu dan Minggu. Diharapkan warga bisa merasakan dampak kelanjutannya, bukan sekedar kegiatan semata”, katanya.

Pada Sabtu dan Minggu, Pasar Lawasan dikunjung sekitar 3 sampai 5 ribu orang. Total tenant di pasar ini sebanyak 37 stand.

Kata Budi, omzet per hari sekitar Rp 20 juta ke atas. Sedangkan kepingan yang beredar sebanyak 12.000 kepingan. 

Menurut Budi, konsep pasar Lawasan ini memang bernuansa pasar zaman kerajaan. Tujuannya mengingatkan warga sekitar terhadap budaya yang dimiliki Kota Surabaya. 

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi pekan lalu sempat melihat Pasar Lawasan yang dikelola mandiri warga. Menurut Budi, Eri menyarankan agar mencari lahan yang luas lewat koordinasi dengan camat dan tetap dikelola masyarakat.

“Pemerintah kota tidak boleh ikut campur’’, kata Budi menirukan Eri Cahyadi.

Salah satu penjual mainan anak-anak, Pak Untung menjelaskan, pengunjung hari Sabtu dan Minggu cukup ramai. Hasil penjualan dipotong lima persen untuk pengelola. (*)  

 

 

Tags:

Ndorowati Lidah Wetan Pasar Lawasan Kota Surabaya