Waspada ! Hujan Masih Deras, Siklon Borneo Lari ke Jawa

Jurnalis: Kuncoro S.
Editor: Rudi

3 Maret 2023 11:00 3 Mar 2023 11:00

Thumbnail Waspada ! Hujan Masih Deras, Siklon Borneo Lari ke Jawa Watermark Ketik
Menurut info dari BMKG, Siklon Borneo lari ke Jawa. Hati hati bila hujan deras.(Foto: iStock)

KETIK, JAKARTA – Sampai awal Maret ini hujan deras masih menggujur di kota Surabaya. Bahkan hujan dengan intensitas tinggi juga terjadi di beberapa daerah Jatim. Misalnya di Kawasan Wisata Pacet, Trawas dan Jalan ke kawasan Songgoriti kabupaten Malang. Akibat curah hujan yang tinggi di ketiga daerah tersebut terjadi tanah longsor. 

Tanah longsor tersebut terjadi akibat tebing jalan tidak kuat menahan gerusan air hujan. Longsoran tanah ini akhirnya menutup ruas jalan di daerah itu

Diperoleh informasi dari BMKG menyebutkan, saat ini terjadi siklon Borne yang lari ke pulau Jawa. Meski Vorteks Borneo atau badai yang berada di sekitar Laut Natuna Utara meluruh, angin sisanya menuju ke Jawa hingga memicu hujan yang belum lelah mengguyur kawasan itu.

Berdasarkan pantauan, sejumlah kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek), Kamis (2/3), sudah diguyur hujan sejak Subuh. Bahkan imbasnya hampir menyeluruh di Pulau Jawa. Bahkan terjadi pula di beberapa daerah Jawa Timur

Ini sejalan dengan prakiraan cuaca Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG). Bahwa, hujan ringan hingga lebat berpotensi terjadi di banyak daerah pada 2-3 Maret.

Pada periode itu, Sumatera secara umum hujan ringan, dengan Bangka Belitung dan Jambi berpotensi hujan sedang. Lampung, Sumatera Selatan, Bengkulu, Sumatera Barat, Riau, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Aceh berpotensi hujan lebat.

Wilayah Jawa secara umum diprakirakan mengalami hujan ringan, dengan Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah berpotensi hujan lebat. Sementara, Bali berpotensi hujan sedang, NTB dan NTT secara umum cerah berawan.

Kalimantan Utara berpotensi hujan sedang, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat diprakirakan hujan lebat.

Sulawesi secara umum cerah berawan, Sulawesi Barat berpotensi hujan sedang. Sementara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara berpotensi hujan lebat.

Maluku, Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara berpotensi hujan lebat.

Peneliti Klimatologi pada Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Erma Yulihastin kepada media menyebut dua faktor penting pemicu hujan masih kukuh mengguyur RI di awal Maret.

Yakni, Lonjakan Lintas Utara Khatulistiwa atau Cross Equatorial Northly Surges (CENS) dan Vorteks Borneo (Borneo Vortex) yang terjadi di Laut China Selatan.

Pertama, CENS yang merupakan penguatan angin dari utara yang memiliki kecepatan rata-rata di atas 5 meter/detik di wilayah Laut China Selatan bagian selatan dekat Laut Jawa. Indeks CENS mulai aktif sejak 21 Februari hingga sekarang.

Kedua, Vorteks Borneo. Vorteks adalah pusaran angin yang memiliki radius putaran pada skala meso, yaitu antara puluhan hingga ratusan kilometer.

"Saat ini, vorteks Borneo mulai terbentuk dekat ekuator di atas Laut China Selatan," kata Erma.

Dua faktor itu selanjutnya  berinteraksi secara terus-menerus pada lokasi yang sama hingga kian membesar selama lebih dari 72 jam atau empat hari. Hasilnya adalah badai atau siklon tropis Vamei.

Per hari ini, Erma memperbarui informasi bahwa Vorteks Borneo itu mulai meluruh. Masalahnya, sisa badai mengarah ke Jawa.

"Update Vorteks Borneo: vorteks sudah mulai meluruh, namun sisa peluruhan berupa angin kencang dari utara kini semuanya mengarah ke Pulau Jawa," kicaunya di Twitter, Kamis (2/3) pagi.Hal inilah yang membuat hujan masih berlanjut.

"Di sisi lain, Jawa menjadi pusat konvergensi, sehingga angin dari Samudra Hindia pun menuju Jawa, menimbulkan hujan tiada henti."

Salah satu efeknya, menurut pantauan Erma, adalah hujan yang melanda Jabodetabek sejak pagi.

"Hujan mulai masuk dan meluas ke Jabodetabek sejak subuh hari ini (2/03). Hujan ini berpola tapal kuda atau bumerang, yg menunjukkan sistem badai terbentuk dalam hujan tersebut, yg disebut dengan bow-echo."

"Inilah kondisi ekstrem yg sejak Desember saya khawatirkan bisa terjadi. Hujan deras dan angin kencang yg dipicu oleh badai vorteks. Semoga tidak ada lagi eskalasi ekstrem setelah Maret ini. Hati-hati semuanya," ia memperingatkan.

Terkait fenomena cuaca ekstrem ini, para ahli menyebut itu terkait dengan pemanasan global yang terutama disumbang oleh kerusakan lingkungan. Salah satunya, penggunaan energi fosil (BBM) berlebih, pembabatan hutan, hingga pemakaian gas freon.

Sementara itu, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Didi Satiadi menyebut efek gas rumah kaca ini menyebabkan siklus hidrologi berputar lebih cepat.  Dia juga menyatakan efeknya, hujan lebih deras, atau sebaliknya cuaca jadi lebih kering.(*)

Tombol Google News

Tags:

Siklon Borneo lari ke Jawa Waspada hujan lebat