Begini Langkah DP3 Pemkab Sleman Antisipasi Meluasnya Kasus Dugaan Antrax

Jurnalis: Fajar Rianto
Editor: M. Rifat

12 Maret 2024 15:49 12 Mar 2024 15:49

Thumbnail Begini Langkah DP3 Pemkab Sleman Antisipasi Meluasnya Kasus Dugaan Antrax Watermark Ketik
Ilustrasi ternak sapi. (Foto: Fajar Rianto / Ketik.co.id)

KETIK, YOGYAKARTA – Antrax merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri bernama Bacillus anthracis. Penyakit ini dapat menyerang hewan dan manusia, serta menyebar melalui beberapa cara.

Saat ini penyakit anthrax dikabarkan kembali menyerang wilayah perbatasan Gunungkidul dan Sleman Di Yogyakarta.

Dari pelacakan (Pengamatan Epidemiologi) atau PE yang dilakukan Dinas Kesehatan Pemda DIY sejak tanggal 8 - 9 Maret 2024 baik di Gunungkidul ataupun Sleman menunjukkan ada 17 warga Gunungkidul yang dikabarkan suspek antraks. Mereka merupakan warga Kalurahan Serut yang ikut memakan daging kambing dari Sleman yang dibawa dan dikuliti di Gunungkidul.

Terkait kejadian tersebut, Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Pemerintah Kabupaten Sleman Ir Suparmono MM, Senin petang (11/3/2024) menyampaikan, Pusat Kesehatan Hewan Prambanan telah berkoordinasi dengan Puskesmas Prambanan dan Kalurahan Gayamharjo.

"Selanjutnya kami, melakukan pengambilan, pengiriman dan pengujian sampel darah dari ternak mati ke Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates," terangnya..

Di samping itu Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP3) Pemkab Sleman bersama-sama dengan Puskesmas Prambanan dan Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, melakukan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) kepada warga Kalinongko Kidul, Gayamharjo.

"Pada intinya kami mengimbau pada masyarakat untuk segera melaporkan setiap kasus kejadian ternak sakit/mati kepada petugas kesehatan hewan, penanganan terhadap ternak yang ambruk/mati untuk tidak disembelih. Serta memastikan untuk sementara waktu tidak ada ternak yang keluar atau masuk ke wilayah Kalinongko Kidul, Gayamharjo," jelasnya.

Pihaknya, sebut Suparmono juga berkoordinasi dengan Balai Besar Veteriner Wates untuk melakukan pengambilan sampel tanah di sekitar lokasi kandang Wagiman untuk selanjutnya diperiksa di Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates. Serta melakukan edukasi terhadap warga yang masih menyimpan daging hasil sembelihan ternak sakit, untuk dilakukan pemusnahan dibawah komando Kepala Dukuh Kalinongko Kidul, Gayamharjo, Prambanan.

Foto Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Pemerintah Kabupaten Sleman Ir Suparmono MM. (Foto: Fajar Rianto / Ketik.co.id)Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Pemerintah Kabupaten Sleman Ir Suparmono MM. (Foto: Fajar Rianto/Ketik.co.id)

Selanjutnya dilakukan desinfeksi di lingkungan kandang Wagiman Kalinongko Kidul, Gayamharjo, Prambanan. Serta pendataan ternak di sekitar lokasi kandang tersebut.

Tidak hanya itu,  Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP3) Pemkab Sleman bekerja sama dengan Gegana Polda DIY untuk melakukan pengambilan sisa daging yang masih disimpan warga Kalinongko Kidul, Gayamharjo. Untuk selanjutnya dilakukan pemusnahan dengan cara dibakar dan ditimbun.

Berikutnya dilakukan pengobatan dan pemberian vitamin terhadap ternak yang berada di sekitar kasus. Untuk menguatkan stamina ternak mengingat saat ini curah hujan di Gayamharjo masih tinggi.

Lebih lanjut dipaparkan oleh Suparmono, berikut kronologis dugaan kasus penyakit antrax di wilayahnya dari bulan Februari - Maret 2024.

Pada 2 Februari 2024: terjadi kematian 1 (satu) ekor ternak kambing milik Wagiman  RT 5 Kalinongko Kidul, Gayamharjo, Prambanan. Kambing yang mati kemudian dikubur. Ia sebutkan, Wagiman memiliki 6 ekor kambing dan 4 ekor sapi. Kejadian kematian kambing ini tidak dilaporkan kepada petugas. S    elanjutnya tanggal 5 Februari 2024: 1 ekor kambing milik Wagiman mati lagi. Sehingga tersisa 4 ekor kambing dan 4 ekor sapi yang masih hidup. Kambing yang mati tersebut disembelih oleh warga dan dagingnya dibagikan kepada warga di Kalinongko Kidul dan sekitarnya. Namun kejadian kematian kambing ini tidak dilaporkan kepada petugas.

Tanggal 7 Februari 2024: 1 (satu) ekor kambing milik Wagiman mati, dan tersisa 3 ekor kambing dan 4 ekor sapi Wagiman yang masih hidup. Kambing yang mati tersebut disembelih oleh warga dan dagingnya dibagikan kepada warga di Kalinongko Kidul dan sekitarnya. Kejadian kematian kambing ini tidak dilaporkan kepada petugas.

Tanggal 10 Februari 2024 : terjadi lagi kematian kambing milik pak Wagiman 1 ekor, dan tersisa 2 ekor kambing dan 4 ekor sapi Wagiman yang masih hidup. Kambing yang mati tersebut disembelih oleh warga dan dagingnya dibagikan kepada warga di Kalinongko Kidul dan sekitarnya. Kejadian kematian kambing ini tidak dilaporkan kepada petugas.

Lalu tanggal 13 Februari 2024: kurang lebih pukul 22.00 WIB, 1 (satu) ekor sapi milik Bapak Wagiman sakit dengan kondisi ambruk. Kemudian sapi tersebut disembelih di dalam kandang dan dikuliti diluar kendang oleh warga sekitar. Hasil penyembelihan tersebut dibuat menjadi sekitar 30 paket dan dibeli oleh warga setempat (RT 03, RT 04, dan RT 05), dan distribusi daging sampai ke Kayoman Gedangsari Gunung Kidul

"Ternak milik pak Wagiman tersisa 2 ekor kambing dan 3 ekor sapi yang masih hidup. Kejadian penyembelihan sapi sakit pada tanggal 13 Februari 2024 tersebut tidak dilaporkan kepada petugas setempat," terang Suparmono.

Lagi tanggal 23 Februari 2024, 1 (satu) ekor kambing milik Wagiman menunjukkan gejala sakit, dan dilakukan penyembelihan di kandang, kambing tersebut dibeli oleh Suryanto alamat  Kayoman, Serut, Gedangsari, Gunung Kidul dan dikonsumsi oleh warga setempat. Ternak pak Wagiman yang masih hidup tersisa 1 ekor kambing dan 3 ekor sapi.

Tanggal 24 Februari 2024: kembali 1 (satu) ekor kambing milik Wagiman alamat Kalinongko Kidul, Gayamharjo, Prambanan menunjukkan gejala sakit, dan dilakukan penyembelihan di kandang, kambing tersebut dibeli oleh Rabidin warga RT 5, Kalinongko Kidul, Gayamharjo, Prambanan dan dikonsumsi oleh warga sekitar.

Kemudian, 2 (dua) ekor sapi milik  Wagiman dijual ke pedagang sapi atas nama Adi yang beralamat di Dadapsari Kalinongko Lor, Gayamharjo. Sedangkan 1 (satu) ekor sapi dibeli oleh Lasiyo alamat RT 5, Kalinongko Kidul, Gayamharjo, Prambanan.

Sehingga sejak saat itu kandang milik Wagiman dalam kondisi kosong karena semua ternaknya mati dan dijual.

Berikutnya tanggal 26 Februari 2024: ada 1 (satu) ternak kambing milik Warno Miharjo (Kalinongko Kidul, Gayamharjo) mati dan dibuang ke kali.

Tanggal 2 Maret 2024: kembali ada 1 (satu) ternak kambing milik Wano Miharjo MIHARJO (Kalinongko Kidul, Gayamharjo) yang mati dan disembelih/dibrandu.

Lalu tanggal 7 Maret 2024: dilaporkan 1 (satu) ekor sapi betina umur 1 (satu) tahun milik Bapak Murjoko (Kepala Dukuh Kalinongko Kidul) yang dipelihara oleh Suryanto, Kayoman, Serut, Gedangsari Gunungkidul dilaporkan mati dengan gejala klinis keluar kotoran dan darah dari anus.

"Adanya ternak yang mati tersebut berdasarkan laporan Bapak Murjoko (Kepala Dukuh Kalinongko Kidul) kepada Puskeswan Prambanan," ungkapnya.

Selanjutnya petugas Puskeswan Prambanan tanggal 7 Maret 2024 melakukan pengambilan sampel darah dan tanggal 7 Maret 2024 dikirim ke Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates.

Sedangkan 1 (satu) ekor kambing milik Saryanto mati pada tanggal yang sama. Namun bangkainya dibuang ke Sungai Kalinongko Kidul yang alirannya menuju ke wilayah Klaten dan Bengawan Solo (tidak terlaporkan ke Petugas).

Dikarenakan yang melaporkan kejadian kematian sapi teresebut adalah Kadus Kalinongko Kidul, Gayamharjo maka petugas berasumsi bahwa lokasi ternak mati tersebut masih berada di wilayah Gayamharjo, Prambanan.

Masih menurut Suparmono, pada saat akan dilakukan penguburan sapi yang berkoordinasi dengan BPBD Sleman, baru ter-identifikasi bahwa lokasi kejadian sapi mati tersebut berada di wilayah Kayoman, Serut, Gedangsari, Gunungkidul.

Nah, selanjutnya penanganan ternak yang mati tanggal 7 Maret 2024  diambil alih oleh Tim Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Gunungkidul.

Ia tegaskan, bahwa lokasi Dusun Kalinongko Kidul, Gayamharjo, Prambanan, Sleman berbatasan dengan  Dusun Kayoman, Serut, Gedangsari, Gunung Kidul dan hanya dipisahkan oleh ruas jalan. (*)

Tags:

Antrax Kalinongko Kidul Gayamharjo Prambanan Kayoman Serut Gedangsari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman Gunungkidul Brimob Dinkes Sleman Dinkes DIY