7 Perkara di Jajaran Kejati Jatim Dapat RJ dari Kejagung

Jurnalis: Moch Khaesar
Editor: Marno

19 Juni 2023 21:30 19 Jun 2023 21:30

Thumbnail 7 Perkara di Jajaran Kejati Jatim Dapat RJ dari Kejagung Watermark Ketik
Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Jatim Mia Amiati, Selasa (20/6/2023). (Foto : M.Khaesar/Ketik.co.id)

KETIK, SURABAYA – Sebanyak 7 perkara yang ditangani Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim dan Kejaksaan Negeri (Kejari) jajaran mendapatkan program keadilan restoratif atau Restorative Justice (RJ) dari Kejaksaan Agung RI melalui Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum (JAM-Pidum). Dengan disetujui itu maka penghentian penuntutan terhadap tujuh kasus yang tengah ditangani Kejati Jatim maupun Kejari jajarannya.

"Setelah melakukan ekspose terhadap 7  perkara ini. JAM Pidum menyetujui 7 permohonan penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif," kata Kepala Kejati (Kajati) Jatim, Mia Amiati, Selasa (20/6/2023).

Mia menjelaskan, 7 perkara ini berasal dari perkara yang ditangani Pidum Kejati Jatim dan Kejari jajaran. Yaitu di Kejari Tanjung Perak, Kejari Lamongan, Kejari Kabupaten Mojokerto dan Kejari Tuban. Ekspose 7 perkara dilakukan di hadapan JAM Pidum melalui sarana virtual.

Ketujuh perkara ini, sambung Mia, terdiri dari 5 perkara tindak pidana terhadap orang dan harta benda (OHARDA). Yaitu dua perkara penganiayaan yang memenuhi ketentuan Pasal 351 KUHP, diajukan oleh  Kejari Kabupaten Mojokerto. Satu perkara perlindungan anak yang memenuhi ketentuan Kesatu Pasal 80 Ayat (1) Jo Pasal 76 C UU RI No 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU No 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak atau Kedua Pasal 351 Ayat (1) KUHP Jo Pasal 55 Ayat (1) Ke-1 KUHP), diajukan oleh  Kejari Lamongan.

Selanjutnya satu perkara Perbuatan pengancaman yang memenuhi ketentuan   Pasal 335 KUHP diajukan oleh  Kejari Lamongan. Satu perkara Laka Lantas yang memenuhi ketentuan Pasal 310 Ayat (2) UU RI No 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, diajuakan diajukan oleh Kejari Tuban.

"Sementara 2 perkara narkotika yang diajukan oleh Kejari Tanjung Perak dan Kejari Kabupaten Mojokerto," jelasnya.

Mia berharap, penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif ini dilakukan untuk memenuhi rasa keadilan masyarakat. Yakni dengan menyeimbangkan antara kepastian hukum dan kemanfaatan dalam pelaksanaan kewenangan penuntutan berdasarkan.

"Kepastian hukum dan hati nurani dilakukan secara administratif harus memenuuhi iketentuan yang diatur di dalam PERJA Nomor 15 Tahun 2020 tentang Penghentian Penuntutan berdasarkan Keadilan Restoratif untuk perkara OHARDA," pungkasnya. (*)

Tombol Google News

Tags:

RJ Restorative Justice Kejati Jatim Kejari Kejaksaan