KETIK, PACITAN – Siapa sangka, berawal dari sekadar hobi menangkap ikan di empang, Guntur Irawan, warga asal Desa Purwoasri, Kecamatan Kebonagung, Pacitan, kini sukses menjadi pembudidaya.
Sejatinya, ayah dua anak itu lebih dikenal di dunia koperasi sebagai pekerjaan utama.
Namun ternyata, tangannya yang jago mencatat neraca keuangan juga lincah mengaduk pakan ikan dan mengontrol kualitas air kolam.
“Awalnya beli bibit buat hiasan, eh malah keterusan,” selorohnya sembari menangkap lele dari kolamnya yang kini penuh sesak oleh ribuan ikan, Jumat, 4 Maret 2025.
Meski tak punya lahan luas, Guntur tak patah arang.
Sekitar tahun 2008 silam, ia memulai dari ember-ember ukuran sedang sebelum akhirnya membangun kolam permanen berukuran sekitar 6 x 2 meter.
Dengan 2000-an benih ikan sekali tebar. Untuk pakan, ia mengeluarkan sekitar Rp300 ribu per tiga bulan—investasi kecil untuk pasokan protein berkualitas bagi keluarga.
“Kalau dihitung-hitung ketimbang beli ke pasar, lebih murah budidaya sendiri,” imbuhnya.
Kini, ikan nila, patin, gurame, hingga lele tumbuh subur nan gemuk di kolam belakang rumahnya dan siap panen setiap 3-5 bulan.
“Ikan itu mudah gemuk, asal pengelolaan airnya bagus dan makannya cukup,” kata Iwan sapaan akrab Guntur Irawan dengan santai.
Tapi agak berbeda, kepala keluarga itu tak mengejar cuan layaknya peternak ikan lain. Ia justru lebih fokus pada manfaat gizi bagi keluarga.
Baginya, anak dan istrinya sehat itu sudah lebih dari cukup.
“Kan kalau mau makan ikan tinggal serok di pekarangan. Keluarga bisa dapat protein setiap hari,” ujarnya bangga.
Ilmu budidayanya pun diberikan cuma-cuma kepada lingkungan sekitar.
Yang akhirnya, inspirasi itu menular ke tetangga untuk mulai memanfaatkan pekarangan rumah untuk budidaya ikan.
“Nggak perlu langsung besar, yang penting mulai dulu. Ternak ikan seperti ini dapat menjadi senjata ampuh melawan stunting keluarga,” pesannya kepada siapa pun yang ingin mencoba.
Diketahui, budidaya ikan di Kabupaten Pacitan saat ini terbilang masih tertinggal jauh dibandingkan daerah lain. Jauh dari potensi maksimal yang bisa dicapai.
Data Dinas Perikanan Pacitan menunjukkan, dari total sekitar 170 kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan), budidaya ikan di wilayah setempat hanya menghasilkan sekitar 1.400 ton per tahun atau rata-rata 100 ton per bulan.
Hal itu menandakan peluang budidaya ikan di Pacitan masih terbuka lebar. (*)