Dipandang Klenik, Ternyata Begini Potensi Cuan dari Dunia Perkerisan di Pacitan

Jurnalis: Al Ahmadi
Editor: Mustopa

23 Juli 2024 05:59 23 Jul 2024 05:59

Thumbnail Dipandang Klenik, Ternyata Begini Potensi Cuan dari Dunia Perkerisan di Pacitan Watermark Ketik
Para pecinta tengah menunjukkan bilah keris yang berumur ratusan tahun. (Foto: Al Ahmadi/Ketik.co.id)

KETIK, PACITAN – Bagi masyarakat Jawa, termasuk di Pacitan, keris tak sekadar senjata tajam. Keris merupakan simbol budaya yang diwariskan turun temurun dan memiliki nilai filosofis tinggi.

Selain diyakini memiliki tuah tertentu, keris di zaman dulu juga menjadi pertanda status sosial di masyarakat.

Keris memiliki banyak ragam, yang disebut dhapur. Dhapur diberikan berdasarkan ciri dan bentuk keris, seperti keris lurus, luk, dan lainnya. Beberapa contoh dhapur keris adalah sengkelat, pulangeni, tilam upih, dhapur brojol, dan kebo teki.

Selain dhapur, pamor pada bilah keris juga menentukan kualitasnya. Pamor adalah guratan terang pada bilah keris yang muncul akibat pencampuran logam berbeda.

Pamor keris pun memiliki banyak jenis, seperti pamor blarak sineret, udan mas, junjung derajat, dan tirto tumetes.

Banyak orang memburu keris dengan pamor tertentu karena diyakini memiliki tuah bagi pemiliknya.

Menilik Peluang Investasi Keris di Pacitan

Dunia perkerisan kini tak hanya soal hobi dan budaya, ternyata peluang investasi masa depan cukup menggiurkan. 

Meski kerap dikait-kaitkan dengan benda sakral. Tri Anjar Waluyo, pelestari benda pusaka asal Desa Tambakrejo, Kecamatan Pacitan menegaskan bahwa jual beli keris itu sah-sah saja, asalkan itu bukan merupakan sebuah pusaka.

Contoh pusaka, imbuhnya, adalah benda bertuah yang diyakini keluarga dan diwariskan turun-temurun. Sedangkan hanya sebatas senjata laiknya clurit dari Madura.

"Lha kalau tidak boleh, bagaimana jika ada generasi milenial sekarang minat pengen beli. Justru upaya jual beli ini yang mendukung terciptanya ekosistem ekonomi perkerisan," jawabnya kepada Ketik.co.id, Selasa (23/7/2024)

Eksistensi keris yang bertahan hingga sekarang ini merupakan bukti adanya peluang investasi ke depan.

Sebab, peluang cuan di dunia perkerisan tak hanya terbatas pada keris itu sendiri, tetapi juga berbagai kelengkapannya, seperti sandangan (pendoke, geger), perangkat-perangkat piranti, dan pernik-perniknya.

Foto Keris-keris yang di pampang dalam acara Pameran Tosan Aji di Desa Sidomulyo, Kebonagung. (Foto: Al Ahmadi/Ketik.co.id)Keris-keris yang di pampang dalam acara Pameran Tosan Aji di Desa Sidomulyo, Kebonagung. (Foto: Al Ahmadi/Ketik.co.id)

Di Kabupaten Pacitan, peluang pasar untuk kelengkapan keris terbilang cukup gamblang. Pasalnya, saat ini tempat pembelian pernak-pernik keris masih terpusat di Kota Solo dan Jogja.

"Belum lagi ekonomi terkait membuat patran atau model keris yang baru, ya tujuannya untuk dipasarkan juga seperti clurit dari Madura atau semacamnya," gagasnya.

Ia menjelaskan, bentuknya yang artistik dan nilai historis dari benda pusaka itu tak termakan zaman.

Sehingga, banyak orang yang memburu keris untuk tujuan spiritual atau hanya sekedar dikoleksi.

Di samping keprihatinannya soal asumsi masyarakat sekarang ini yang melihat keris lebih dikaitkan dengan budaya klenik atau berbau mistis yang menyeramkan.

Tri Anjar dan teman-teman pecinta keris mengaku saat ini tengah berupaya mengenalkan pusaka warisan nusantara tersebut kepada khalayak, terutama terhadap generasi milenial.

Seperti melalui kegiatan pameran, sarasehan ataupun acara lain yang mengumpulkan banyak massa.

Andilnya para generasi milenial dalam melestarikan warisan nusantara disebut perlu terus dipupuk supaya eksistensi keris di Pacitan terus berlangsung.

"Yang disebut bikin ingkar dengan Tuhan itu seharusnya bukan keris, tapi duit," tandasnya seraya tersenyum canda. (*)

Tombol Google News

Tags:

pacitan Keris di Pacitan