Malaysia Open: Sejarah dan Para Juaranya

22 Desember 2024 19:27 22 Des 2024 19:27

Thumbnail Malaysia Open: Sejarah dan Para Juaranya Watermark Ketik
Ferry A Sonneville Tunggal Putra Indonesia peraih gelar pertama. (Hari Pot/Arsip Nasional)

KETIK, SURABAYA – Badminton World Federation (BWF) resmi merilis Malaysia Open 2025. Turnamen tersebut akan digelar di Stadium Axiata Arena, Kuala lumpur pada 7-12 Januari 2025 mendatang.

Malaysia Open masuk dalam agenda tahunan turnamen elit BWF dengan level Super 1000. Super 1000 adalah level tertinggi, yang memberikan hadiah uang dan poin peringkat tertinggi di antara turnamen bulutangkis lainnya. 

Selain Malaysia, negara penyelenggara Super 1000 lainnya yakni, Inggris, Indonesia dan China. Salah satu turnamen Super 1000 yang dimiliki Indonesia adalah Indonesia Open.

Sejarah Malaysia Open.

Malaysia Open awalnya sebagai turnamen berlevel 750, namun naik menjadi Super 1000 pada 2023. Turnamen ini pertama kali digelar tahun 1937.

Turnamen sempat terhenti selama 4 tahun, saat terjadi perang dunia ke-2 pada 1942-1946. Terhentinya turnamen berlanjut di 1969-1982, dan  2020 karena pandemi Covid-19.

Turnamen bulutangkis yang menjadi jujukan pebulu tangkis dunia pada 2007 hingga 2017 yang dikenal Malaysia Super Series. Memasuki tahun 2018 hingga 2022 menjadi satu dari lima turnamen BWF Tour Super Series 750. Pada 2023 BWF resmi meningkatkan turnamen tersebut menjadi BWF Super Series 1000.

BWF Super Series 1000 telah tergelar di Johor Bahru, Kota Kinabalu, Kuching, Penang, Selangor, dan Kuantan, hingga di Axiata Arena, Kuala Lumpur.

PBSI-nya Malaysia atau yang dikenal dengan The Badminton Association of Malaysia (BAM) berdiri tahun 1964. Sebelum berdirinya BAM, di Malaysia terdapat persatuan bulutangkis seperti di Perak, Penang, Selangor, Johor, dan Singapura

Dunia perbulutangkisan Malaysia memiliki catatan sejarah yang menarik. Geliat turnamen bulutangkis bergengsi di negara itu sudah digelar 20 tahun sebelum kemerdekaan. Deklarasi Kemerdekaan Malaysia terjadi pada 31 Agustus 1957.

Lalu siapa sajakah para juara di turnamen ini?.

Untuk tunggal putra, Negeri Jiran masih mendominasi dengan 28 kali juara, Negeri Selat 12 kali (koloni Britania yang terdiri dari Pulau Pinang, Melaka, dan Singapura), Indonesia 8 kali, disusul China 6 kali dan Denmark 5 kali.

Di sektor tunggal putri, China merajai dengan 23 kali juara, Malaysia 17 kali, Indonesia 7 kali, dan Negeri Selat 2 kali, Inggris 1 Kali.

Bergeser ke ganda putra, tuan rumah Malaysia juara 32 kali,Indonesia 13 kali, korea Selatan 8 kali, China 5 kali dan Negeri Selat 3 kali.

Giliran ganda putri, Sang Negeri bambu China merajai dengan 27 gelar, Malaysia 21 kali, disusul  Indonesia dan Korea Selatan 4 kali, Jepang dan Denmark 3 kali, negeri Selat 2 kali, Inggris 1 kali.

Kembali China memimpin perolehan gelar untuk ganda campuran dengan 15 kali, Indonesia dan Malaysia 8 kali, Korea Selatan 6 kali, Inggris 4 kali, ditutup oleh Denmark 3 kali, Negeri Selat 2 kali.

Malaysia menorehkan juara untuk pertama kalinya saat masih bernama Federasi Melayu pada tahun 1937 dari sektor tunggal putra dengan wakilnya A.S. Samuel. Federasi Malayu adalah negara yang kemudian menjadi Malaysia pada tahun 1963. Negara ini didirikan pada tahun 1948 dan terdiri dari sembilan negeri Melayu dan dua pemukiman Britania, yaitu Penang dan Melaka. Sedangkan Indonesia baru mencuri gelar pada 1955, yang diperoleh dari Ferry Sonneville.

Di sektor tunggal putri Malaysia mencuri gelar saat tahun 1938, kala itu Moey Chwee Lan sebagai juara. Indonesia baru mendapat gelar pertama ganda putri 28 tahun kemudian, tepatnya tahun 1966. Minarni tampil sebagai juara.

Sektor ganda putra, Malaysia meraih gelar pertama pada 1937 dari pasangan A.S. Samuel dan Chan Kon Leong. Indonesia meriah gelar pertama di sektor ini saat 1983, dari pasangan Christian Hadinata dan Bobby Ertanto.

Di sektor ganda putri, gelar pertama Malaysia pada 1938 melalui Chang Kon Neong dan Ida Lim. Yang Weng Ching dan Oei Lin Nio mencuri gelar untuk Indonesia pada 1956.

Pada ganda campuran, Malaysia mengambil juara pertama kali pada 1939 dari kemenangan Ooi Teik Hock dan Cecilia Chan, dan Indonesia baru mencapai gelar pada 1967 dari Tan Joe Hock dan Retno Koestijah.

Berikut catatan Sejarah tentang para juara Malaysia Open dari tahun 1937.

Tunggal Putra:

  • 1937: A.S. Samuel (Negeri Bagian Federasi Melayu)
  • 1938: Tan Chong Tee (Negeri Selat)
  • 1939: Seah Eng Hee (Negeri Selat)
  • 1940: Wong Peng Soon (Negeri Selat)
  • 1941: Wong Peng Soon (Negeri Selat)
  • 1942-46: Ditiadakan karena Perang Dunia II
  • 1947: Wong Peng Soon (Negeri Selat)
  • 1948: Ooi Teik Hock (Negeri Bagian Federasi Melayu)
  • 1949: Wong Peng Soon (Negeri Selat)
  • 1950: Wong Peng Soon (Negeri Selat)
  • 1951: Wong Peng Soon (Negeri Selat)
  • 1952: Wong Peng Soon (Negeri Selat)
  • 1953: Wong Peng Soon (Negeri Selat)
  • 1954: Oong Poh Lim (Negeri Selat)
  • 1955: Ferry Sonneville (Indonesia)
  • 1956: Ong Poh Lim (Negeri Selat)
  • 1957: Choong Ewe Beng (Federasi Malaya)
  • 1958: Charoen Wattanasin (Thailand)
  • 1959: Charoen Wattanasin (Thailand)
  • 1960: Choong Ewe Beng (Federasi Malaya)
  • 1961: Jim Poole (Amerika Serikat)
  • 1962: Charoen Wattanasin (Thailand)
  • 1963: Yew Cheng Hoe (Malaysia)
  • 1964: Biliy Ng Seow Meng (Malaysia)
  • 1965: Tan Aik Huang (Malaysia)
  • 1966: Tan Aik Huang (Malaysia)
  • 1967: Erland Kops (Denmark)
  • 1968: Tan Aik Huang (Malaysia)
  • 1969-82: Ditiadakan
  • 1983: Liem Swie King (Indonesia)
  • 1984: Icuk Sugiarto (Indonesia)
  • 1985: Misbun SIdek (Malaysia)
  • 1986: Zhao Jianhua (China)
  • 1987: Yang Yang (China)
  • 1988: Xiong Guobao (China)
  • 1989: Xiong Guobao (China)
  • 1990: Rashid Sidek (Malaysia)
  • 1991: Rashid Sidek (Malaysia)
  • 1992: Rashid Sidek (Malaysia)
  • 1993: Ardy Wiranata (Indonesia)
  • 1994: Joko Suprianto (Indonesia)
  • 1995: Alan Budikusuma (Indonesia)
  • 1996: Ong Ewe Hock (Malaysia)
  • 1997: Hermawan Susanto (Indonesia)
  • 1998: Peter Gade (Denmark)
  • 1999: Luo Yigang (China)
  • 2000: Taufik Hidayat (Indonesia)
  • 2001: Ong Ewe Hock (Malaysia)
  • 2002: James Chua (Malaysia)
  • 2003: Chen Hong (China)
  • 2004: Lee Chong Wei (Malaysia)
  • 2005: Lee Chong Wei (Malaysia)
  • 2006: Lee Chong Wei (Malaysia)
  • 2007: Peter Gade (Denmark)
  • 2008: Lee Chong Wei (Malaysia)
  • 2009: Lee Chong Wei (Malaysia)
  • 2010: Lee Chong Wei (Malaysia)
  • 2011: Lee Chong Wei (Malaysia)
  • 2012: Lee Chong Wei (Malaysia)
  • 2013: Lee Chong Wei (Malaysia)
  • 2014: Lee Chong Wei (Malaysia)
  • 2015: Chen Long (China)
  • 2016: Lee Chong Wei (Malaysia)
  • 2017: Lin Dan (China)
  • 2018: Lee Chong Wei (Malaysia)
  • 2019: Lin Dan (China)
  • 2020-21: Dibatalkan karena pandemi COVID-19
  • 2022: Viktor Axelsen (Denmark)
  • 2023: Viktor Axelsen (Denmark)
  • 2024: Anders Antonsen (Denmark)

Tunggal Putri:

  • 1937: Alince Pennefather (Negeri Selat)
  • 1938: Moey Chwee Lan (Negeri Bagian Federasi Melayu)
  • 1939: Cecilian Chan (Negeri Bagian Federasi Melayu)
  • 1940: Cecilian Chan (Negeri Bagian Federasi Melayu)
  • 1941: Lee Chee Neo (Negeri Bagian Federasi Melayu)
  • 1942-46: Ditiadakan karena PD II
  • 1947: Cecilia Samuel (Negeri Bagian Federasi Melayu)
  • 1948: Helen Heng (Negeri Selat)
  • 1949: Helen Heng (Negeri Selat)
  • 1950: Cecilia Samuel (Federasi Malaya)
  • 1951: Cecilia Samuel (Federasi Malaya)
  • 1952: Cecilia Samuel (Federasi Malaya)
  • 1953: Cecilia Samuel (Federasi Malaya)
  • 1954: Cecilia Samuel (Federasi Malaya)
  • 1955: Cecilia Samuel (Federasi Malaya)
  • 1956: Yang Weng Ching (Indonesia)
  • 1957: Tan Gaik Bee (Federasi Malaya)
  • 1958-59: Pachara Pattabongs (Thailand)
  • 1960: Minarni (Indonesia)
  • 1961: Tan Gaik Bee (Federasi Malaya)
  • 1962: Tan Gaik Bee (Federasi Malaya)
  • 1963: Tan Gaik Bee (Federasi Malaya)
  • 1964: Sylvia Tan (Malaysia)
  • 1965: Rosalind Singha Ang (Malaysia)
  • 1966: Minarni (Indonesia)
  • 1967: Minarni (Indonesia)
  • 1968: Hiroe Yuki (Jepang)
  • 1969-82: Ditiadakan
  • 1983: Pan Zhenli (China)
  • 1984: Li Lengwei (China)
  • 1985: Gillian Gowers (Inggris)
  • 1986: Shi Wen (China)
  • 1987: Li Lingwei (China)
  • 1988: Han Aiping (China)
  • 1989: Han Aiping (China)
  • 1990: Huang Hua (China)
  • 1991: Sarwendah Kusumawardhani (Indonesia)
  • 1992: Huang Hua (China)
  • 1993: Susi Susanti (Indonesia)
  • 1994: Susi Susanti (Indonesia)
  • 1995: Susi Susanti (Indonesia)
  • 1996: Zhang Ning (China)
  • 1997: Susi Susanti (Indonesia)
  • 1998: Zhang Ning (China)
  • 1999: Dai Yun (China)
  • 2000: Gong Zhichao (China)
  • 2001: Gong Ruina (China)
  • 2002: Hu Ting (China)
  • 2003: Zhou Mi (China)
  • 2004: Zhang Ning (China)
  • 2005: Zhang Ning (China)
  • 2006: Zhang Ning (China)
  • 2007: Zhu Lin (China)
  • 2008: Tine Rasmussen (Denmark)
  • 2009: Tine Rasmussen (Denmark)
  • 2020: Wang Xin (China)
  • 2011: Wang Shixian (China)
  • 2012: Wang Yihan (China)
  • 2013: Tai Tzu-ying (China Taipei)
  • 2014: Li Xuerui (China)
  • 2015: Carolina Marin (Spanyol)
  • 2016: Ratchanok INtanon (Thailand)
  • 2017: Tai Tzu-ying (China Taipei)
  • 2018: Tai Tzu-ying (China Taipei)
  • 2019: Tai Tzu-ying (China Taipei)
  • 2020-21: Ditiadakan karena pandemi COVID-19
  • 2022: Ratchanok Intanon (Thailand)
  • 2023: Akane Yamaguchi (Jepang)
  • 2024: An Se Young (Korea Selatan)

Ganda Putra:

  • 1937: A.S. Samuel dan Chan Kon Leong (Negeri Bagian Federasi Melayu)
  • 1938: A.S. Samuel dan Chan Kon Leong (Negeri Bagian Federasi Melayu)
  • 1939: Teh Gin Sooi dan Low Keat Soo (Negeri Bagian Federasi Melayu)
  • 1940: Ooi Teik Hock dan Tan Kin Hong (Negeri Bagian Federasi Melayu)
  • 1941: Chee Choon Wah dan Chee Choon Keng (Negeri Bagian Federasi Melayu)
  • 1942-46: Ditiadakan karena PD II
  • 1947: Ooi Teik Hock dan Tan Kin Hong (Negeri Bagian Federasi Melayu)
  • 1948: Ooi Teik Hock dan Tan Kin Hong (Negeri Bagian Federasi Melayu)
  • 1949 Chan Kon Leong dan Yeoh Teck Chye (Negeri Bagian Federasi Melayu)
  • 1950: Ong Poh Lim dan Ismail Marjan (Negeri Selat)
  • 1951: Chann Kon Leong dan Abdullah Piruz (Federasi Malaya)
  • 1952: Choong Ewe Leong dan Law Teik Hock (Federasi Malaya)
  • 1953: Ong Poh Lim dan Ismail Marjan (Negeri Selat)
  • 1954: Chan Kon Leong dan Lee Kee Fong (Federasi Malaya)
  • 1955: Ong Poh Lim (Negeri Selat) dan Ooi Teik Hock (Federasi Malaya)
  • 1956: Ong Poh dan Ismail Marjan (Negeri Selat)
  • 1957: Teh Kew San dan Lim Say Hup (Federasi Malaya)
  • 1958: Charoen Wattanasin dan Kamal Sudthivanich (Thailand)
  • 1959: Teh Kew San dan Lim Say Hup (Federasi Malaya)
  • 1960: Teh Kew San dan Lim Say Hup (Federasi Malaya)
  • 1961: Tan Yee Khan dan Ng Boon Bee (Federasi Malaya)
  • 1962: Teh Kew San dan George Yap (Federasi Malaya)
  • 1963: Tan Yee Khan dan Ng Boon Bee (Malaysia)
  • 1964: Tan Yee Khan dan Ng Boon Bee (Malaysia)
  • 1965: Tan Yee Khan dan Ng Boon Bee (Malaysia)
  • 1966: Eddy Choong dan Tan Aik Huang (Malaysia)
  • 1967: Tan Yee Khan dan Ng Boon Bee (Malaysia)
  • 1968: Tan Yee Khan dan Ng Boon Bee (Malaysia)
  • 1968-82: Ditiadakan
  • 1983: Christian Hadinata dan Bobby Ertanto (Indonesia)
  • 1984: Lee Deuk-choon dan Kim Moon-soo (Korea Selatan)
  • 1985: Jalani Sidek dan Razif Sidek (Malaysia)
  • 1986: Jalani Sidek dan Razif Sidek (Malaysia)
  • 1987: Jalani Sidek dan Razif Sidek (Malaysia)
  • 1988: Tian Bingyi dan Li Yongbo (China)
  • 1989: Park Joo-bong dan Kim Moon-soo (Korea Selatan)
  • 1990: Park Joo-bong dan Kim Moon-soo (Korea Selatan)
  • 1991: Park Joo-bong dan Kim Moon-soo (Korea Selatan)
  • 1992: Cheah Soon Kit dan Soo Beng Kiang (Malaysia)
  • 1993: Ricky Subagja dan Rexy Mainaky (Indonesia)
  • 1994: Ricky Subagja dan Rexy Mainaky (Indonesia)
  • 1995: Pramote Teerawiwatana dan Sakrapee Thongsari (Thailand)
  • 1996: Cheah Soon Kit dan Yam Kim Hock (Malaysia)
  • 1997: RIcky Subagja dan Rexy Mainaky (Indonesia)
  • 1998: Tony Gunawan dan Halim Haryanto (Indonesia)
  • 1999: Candra Wijaya dan Tony Gunawan (Indonesia)
  • 2000: Lee Dong-soo dan Yoo Yung-sung (Korea Selatan)
  • 2001: Candra Wijaya dan Sigit Budiarto (Indonesia)
  • 2002: Liu Yong dan Chen Qiqiu (China)
  • 2003: Kim Dong-moon dan Lee Dong-soo (Korea Selatan)
  • 2004: Choong Tan Fook dan Lee Wan Wah (Malaysia)
  • 2005: Candra Wijaya dan Sigit Budiarto (Indonesia)
  • 2006: Koo Kien Keat dan Chan Chong Ming (Malaysia)
  • 2007: Koo Kien Keat dan Tan Boon Heong (Malaysia)
  • 2008: Markis Kido dan Hendra Setiawan (Indonesia)
  • 2009: Jung Jae-sung dan Lee Yong-dae (Korea Selatan)
  • 2010: Koo Kien Keat dan Tan Boon Keong (Malaysia)
  • 2011: Chai Biao dan Guo Zhendong (China)
  • 2012: Fang Chieh-min dan Lee Sheng-mu (China Taipei)
  • 2013: Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan (Indonesia)
  • 2014: Goh V Shem dan Lim Khim Wah (Malaysia)
  • 2015: Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan (Indonesia)
  • 2016: Kim Gi-jung dan Kim Sa-rang (Korea Selatan)
  • 2017: Marcus Fernaldi Gideon dan Kevin Sanjaya (Indonesia)
  • 2018: Takeshi Kamura dan Keigo Sonoda (Jepang)
  • 2019: Li Junhui dan Liu Yuchen (China)
  • 2020-21: Ditiadakan karena pandemi COVID-19
  • 2022: Takuro Hoki dan Yugo Kobayashi (Jepang)
  • 2023: Fajar Alfian dan Muhammad Rian Ardianto (Indonesia)
  • 2024: Liang Wei Keng dan Wang Chang (China)

Ganda Putri:

  • 1937: Alice Pennefather dan Ong Siew Eng (Negeri Selat)
  • 1938: Chang Kon Neong dan Ida Lim (Negeri Bagian Federasi Melayu)
  • 1939: Chang Kon Neong dan Ida Lim (Negeri Bagian Federasi Melayu)
  • 1940: Lee Chee Neo dan Lee Kim Leo (Negeri Bagian Federasi Melayu)
  • 1941: Lee Chee Neo dan Lee Kim Leo (Negeri Bagian Federasi Melayu)
  • 1942-46: Ditiadakan karena PD II
  • 1947: Cecilia Samuel dan Molly Chin (Negeri Bagian Federasi Melayu)
  • 1948: Alice Pennefather dan Helen Heng (Negeri Selat)
  • 1949: Amy Choong dan Cheah Kooi San (Negeri Bagian Federasi Melayu)
  • 1950: Cecilia Samuel dan Hoi Sai Ying (Federasi Malaya)
  • 1951: Cecilia Samuel dan Lim Kit Lin (Federasi Malaya)
  • 1952: Amy Choong dan Cheah Kooi San (Federasi Malaya)
  • 1953: Cecilia Samuel dan Phua Yoke Chin (Federasi Malaya)
  • 1954: Cecilia Samuel dan Phua Yoke Chin (Federasi Malaya)
  • 1955: Cecilia Samuel dan Phua Yoke Chin (Federasi Malaya)
  • 1956: Yang Weng Ching dan Oei Lin Nio (Indonesia)
  • 1957: Tan Gaik Bee dan Lim Kit Lin (Federasi Malaya)
  • 1958: Tan Gaik Bee dan Lim Kit Lin (Federasi Malaya)
  • 1959: Tan Gaik Bee dan Cecilia Samuel (Federasi Malaya)
  • 1960: Tan Gaik Bee dan Cecilia Samuel (Federasi Malaya)
  • 1961: Tan Gaik Bee dan Cecilia Samuel (Federasi Malaya)
  • 1962: Tan Gaik Bee dan Ng Mei Ling (Federasi Malaya)
  • 1963: Tan Gaik Bee dan Ng Mei Ling (Federasi Malaya)
  • 1964: Teoh Siew Yong dan Rosalind Singha Ang (Malaysia)
  • 1965: Teoh Siew Yong dan Rosalind Singha Ang (Malaysia)
  • 1966: Retno Koestijah dan Minarni (Indonesia)
  • 1967: Retno Koestijah dan Minarni (Indonesia)
  • 1968: Machiko Aizawa dan Etsuko Toganoo (Jepang)
  • 1969-82: Ditiadakan
  • 1983: Kim Yun-ja dan Yoo Sang-hee (Korea Selatan)
  • 1984: Guan Weizhen dan Wu Jianqiu (China)
  • 1985: Gillian Gowers dan Gillian Clark (Inggris)
  • 1986: Wu Jianqiu dan Lin Ying (China)
  • 1987: Guan Weizhen dan Lin Ying (China)
  • 1988: Guan Weizhen dan Lin Ying (China)
  • 1989: Guan Weizhen dan Lin Ying (China)
  • 1990: Chung Myung-hee dan Chung So-young (Korea Selatan)
  • 1991: Hwang Hye-young dan Chung So-young (Korea Selatan)
  • 1992: Ge Fei dan Gu Jun (China)
  • 1993: Lim Xiaoqing dan Christine Magnusson (Swedia)
  • 1994: Ge Fei dan Gu Jun (China)
  • 1995: Julie Bradbury dan Joanne Wright (Inggris)
  • 1996: Marlene Thomsen dan Rikke Olsen (Denmark)
  • 1997: Ge Fei dan Gu Jun (China)
  • 1998: Marlene Thomsen dan Rikke Olsen (Denmark)
  • 1999: Ge Fei dan Gu Jun (China)
  • 2000: Ge Fei dan Gu Jun (China)
  • 2001: Huang Nanyan dan Yang Wei (China)
  • 2002: Huang Nanyan dan Yang Wei (China)
  • 2003: Yang Wei dan Zhang Jiewen (China)
  • 2004: Yang Wei dan Zhang Jiewen (China)
  • 2005: Yang Wei dan Zhang Jiewen (China)
  • 2006: Gao Ling dan Huang Sui (China)
  • 2007: Gao Ling dan Huang Sui (China)
  • 2008: Yang Wui dan Zhang Jiewen (China)
  • 2009: Lee Hyo-jung dan Lee Kyung-won (Korea Selatan)
  • 2010: Du Jing dan Yu Yang (China)
  • 2011: Tian Qing dan Zhao Yunlei (China)
  • 2012: Christinna Pedersen dan Kamilla Rytter Juhl (Denmark)
  • 2013: Tian Qing dan Bao Yixin (China)
  • 2014: Bao Yixin dan Tang Jinhua (China)
  • 2015: Luo Ying dan Luo Yu (China)
  • 2016: Tang Yuanting dan Yu Yang (China)
  • 2017: Yuki Fukushima dan Sayaka Hirota (Jepang)
  • 2018: Misaki Matsutomo dan Ayaka Takahashi (Jepang)
  • 2019: Chen Qingchen dan Jia Yifan (China)
  • 2020: Ditiadakan karena pandemi COVID-19
  • 2021: Ditiadakan karena pandemi COVID-19
  • 2022: Apriyani Rahayu dan Siti Fadia (Indonesia)
  • 2023: Chen Qingchen dan Jia Yifan (China)
  • 2024: Liu Sheng Shu dan Tan Ning (China)

Ganda Campuran:

  • 1937: Wong Peng Soon dan Waileen Wong (Negeri Selat)
  • 1938: Wong Peng Soon dan Waileen Wong (Negeri Selat)
  • 1939: Ooi Teik Hock dan Cecilia Chan (Negeri Bagian Federasi Melayu)
  • 1940: Wong Peng Soon (Negeri Selat) dan Lee Chee Neo (Negeri Bagian Federasi Melayu)
  • 1941: Chee Choon Wah dan Ong Eak Eam (Negeri Bagian Federasi Melayu)
  • 1942-46: Ditiadakan karena PD II
  • 1947: Chan Kon Leong dan Cecilia Samuel (Negeri Bagian Federasi Melayu)
  • 1948: Ditiadakan
  • 1949: Eddy Choong dan Amy Choong (Negeri Bagian Federasi Melayu)
  • 1950-53: Ditiadakan
  • 1954: Chan Kon Leong dan Cecilia Samuel (Federasi Malaya)
  • 1955: Jorgen Hammergaard Hansen (Denmark) dan Amy Choong (Federasi Malaya)
  • 1956-62: Ditiadakan
  • 1963: Tan Aik Huang dan Teoh Siew Yong (Malaysia)
  • 1964-66: Ditiadakan
  • 1967: Tan Joe Hock dan Retno Koestijah (Indonesia)
  • 1968: Svend Andersen (Denmark) dan Eva Twedberg (Swedia)
  • 1969-82: Ditiadakan
  • 1983: Martin Dew dan Nora Perry (Inggris)
  • 1984: Steen Fladberg (Denmark) dan Gillian Gilks (Inggris)
  • 1985: Ditiadakan
  • 1986: Bobby Ertanto dan Verawaty Fajrin (Indonesia)
  • 1987: Steen Fladberg (Denmark) dan Gillian Gilks (Inggris)
  • 1988: Eddy Hartono dan Verawaty Fajrin (Indonesia)
  • 1989: Park Joo-bong dan Chung So-young (Korea Selatan)
  • 1990: Park Joo-bong dan Chung Myung-hee (Korea Selatan)
  • 1991: Lee Sang-bok dan Chung So-young (Korea Selatan)
  • 1992: Thomas Lund dan Pernille Dupont (Denmark)
  • 1993: Michael Sogaard (Denmark) dan Gillian Gowers (Inggris)
  • 1994: Jan-Eric Antonsson dan Astrid Crabo (Swedia)
  • 1995: Kim Dong-moon dan Gil Young-ah (Korea Selatan)
  • 1996: Tri Kusharjanto dan Minarti Timur (Indonesia)
  • 1997: Liu Yong dan Ge Fei (China)
  • 1998: Tri Kusharjanto dan Minarti Timur (Indonesia)
  • 1999: Michael Sogaard dan Rikke Olsen (Denmark)
  • 2000: Tri Kusharjanto dan Minarti Timur (Indonesia)
  • 2001: Bambang Suprianto dan Emma Ermawati (Indonesia)
  • 2002: Nathan Robertson dan Gail Emms (Inggris)
  • 2003: Kim Dong-moon dan Ra Kyung-min (Korea Selatan)
  • 2004: Zhang Jun dan Gao Ling (China)
  • 2005: Lee Jae-jin dan Lee Hyo-jung (Korea Selatan)
  • 2006: Zhang Jun dan Gao Ling (China)
  • 2007: Zheng Bo dan Gao Ling (China)
  • 2008: He Hanbin dan Yu Yang (China)
  • 2009: Nova Widianto dan Liliyana Natsir (Indonesia)
  • 2010: Tao Jiaming dan Zhang Yawen (China)
  • 2011: He Hanbin dan Ma Jin (China)
  • 2012: Zhang Nan dan Zhao Yunlei (China)
  • 2013: Joachim Fischer Nielsen dan Christinna Pedersen (Denmark)
  • 2014: Xu Chen dan Ma Jin (China)
  • 2015: Zhang Nan dan Zhao Yunlei (China)
  • 2016: Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir (Indonesia)
  • 2017: Zheng Siwei dan Chen Qingchen (China)
  • 2018: Zheng Siwei dan Huang Yaqiong (China)
  • 2019: Zheng Siwei dan Huang Yaqiong (China)
  • 2020: Ditiadakan karena pandemi COVID-19
  • 2021: Ditiadakan karena pandemi COVID-19
  • 2022: Zheng Siwei dan Huang Yaqiong (China)
  • 2023: Zheng Siwei dan Huang Yaqiong (China)
  • 2024: Yuta Watanabe/Arisa Higashino (Jepang)

Tombol Google News

Tags:

ketik ketikmedia Badminton bulutangkis malaysiaopen juara BWF