Musim Kemarau, Sopir Truk di Pacitan Kantongi Omzet Puluhan Juta

Jurnalis: Al Ahmadi
Editor: Mustopa

8 Oktober 2023 10:19 8 Okt 2023 10:19

Thumbnail Musim Kemarau, Sopir Truk di Pacitan Kantongi Omzet Puluhan Juta Watermark Ketik
Proses pengisian air bersih ke tangki truk, untuk diedarkan kepada masyarakat. (Foto: Al Ahmadi/ketik.co.id)

KETIK, PACITAN – Musim kemarau panjang di Pacitan, Jawa Timur, menjadi berkah tersendiri bagi Edi (26) seorang pengangkut material bangunan alias sopir truk asal Desa Klesem, Kecamatan Kebonagung. Ia mampu mengantongi omzet hingga puluhan jutaan rupiah lewat jualan air bersih.

"Sehari biasanya antara 3 sampai 6 rit, satu rit itu isi 3.000 liter. Alhamdulillah di musim panas ini ramai terus," ungkapnya ditemui media online nasional Ketik.co.id di lokasi penyedotan air, Minggu (8/10/2023).

Salah satu sumber airnya didapat dari sumur bor milik Bonandir di Desa Banjarjo, Kecamatan Kebonagung dengan harga Rp20 ribu rupiah. Dengan kedalaman sekitar 20 meter, kondisi air yang bersih, sumur tersebut menjadi pilihan untuk diedarkan ke warga yang membutuhkan.

Edi mengatakan, pembeli air banyak dari wilayah tempat tinggalnya yang juga kesulitan air. Namun, untuk sebagian daerah lainnya juga ada, biasanya hal itu atas permintaan dari pihak tertentu.

"Karena ini musim kemarau air kan sulit. Selain dari masyarakat, permintaan lainnya seperti dari organisasi dan partai juga banyak," jelasnya.

Dia menuturkan, awalnya hanya dimintai tolong sama masyarakat. Tetapi, karena permintaan cukup banyak, mulai dari masyarakat hingga kerjasama organisasi, akhirnya ia memanfaatkan kesempatan tersebut.

"Awalnya kan hanya beberapa. Ternyata kalau musim kemarau banyak yang minta. Setelah dihitung termasuk bensin dan tenaga, akhirnya mulai jalan," bebernya.

Foto Edi (26) pengangkut material bangunan yang sementara beralih ke jasa distribusi air bersih. (Foto: Al Ahmadi/ketik.co.id)Edi (26) pengangkut material bangunan yang sementara beralih ke jasa distribusi air bersih. (Foto: Al Ahmadi/ketik.co.id)

Omzetnya mencapai Rp 2,4 juta dalam satu minggu. Edi menjual 3.000 liter air dijual seharga Rp200 hingga Rp300 ribu tergantung jauh dekat wilayahnya.

"Bisa sampai daerah Tulakan, Njetak, Godek tergantung permintaan. Ini juga merupakan solusi kekeringan di musim kemarau yang ada di wilayah Pacitan. Ya mudah-mudahan bisa membantu warga," ucapnya.

Di lain pihak, Krisis air bersih di Kabupaten Pacitan semakin merata di 12 kecamatan. Tercatat, Berdasar data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), ada 20.945 jiwa dari 8.923 kepala keluarga (KK) meliputi 97 dusun dalam 34 desa yang terdampak. 

Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik pada BPBD Pacitan, Radite Suryo Anggoro mengungkapkan, jumlah itu terhitung sejak dua pekan belakangan seiring meningkatnya kebutuhan di masyarakat. 

"Kalau dihitung sejak kali pertama pengiriman, Agustus 2023 lalu jumlah liternya lebih banyak. Akhir-akhir ini permintaan terus meningkat," katanya, Jumat (6/10/2023). 

Radite menyebutkan, selama musim kemarau, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah mengirimkan lebih dari 1.125.000 liter air bersih kepada warga yang terdampak. 

Foto Truk yang digunakan Edi untuk pengangkutan air bersih. (Foto: Al Ahmadi/ketik.co.id)Truk yang digunakan Edi untuk pengangkutan air bersih. (Foto: Al Ahmadi/ketik.co.id)

Hal ini melihat banyaknya pengiriman air bersih setiap hari ke sejumlah titik desa yang mengalami kekeringan. "Dalam satu hari rata-rata pengiriman air bersih sebanyak 15 kali, itu kami masih kewalahan karena armada tangkinya terbatas," ujarnya. 

Meski demikian, lanjut Radite, jika musim kemarau tidak kunjung usai, maka titik kekeringan diprediksi bakal meluas. Di sisi lain ketersediaan sumber air juga semakin menipis. 

"Berdasarkan permintaan. Kalau 75 ribu liter dikali 15 hari saja jumlahnya sudah berapa? Bahkan bisa lebih dari itu nanti," tambah Radite. 

Sebagai upaya pemerataan cakupan distribusi, BPBD Pacitan harus menggunakan tangki dari luar melalui pihak ketiga. "Mengingat hanya ada 3 unit tangki, masing-masing berkapasitas 6 ribu, 5 ribu dan 4 ribu liter," terang Radite. 

Selain itu, beberapa kebutuhan masyarakat lainnya seperti bak penampungan darurat, jeriken dan toren dari pemerintah juga telah didistribusikan sejak awal musim kemarau lalu. "20 toren kapasitas 1.200 liter, 400 jeriken 20 literan sudah terdistribusikan sesuai kebutuhan termasuk pengganti tandon berupa terpal," jelas Radite.(*)

Tags:

Musim Kemarau pacitan KLESEM JUALAN AIR BERSIH
04. Home Sidebar 1
06. Home Sidebar 3 21. Home Sidebar 4 04. Home Sidebar 1