Pilkada Sidoarjo 2024; Strategi Bongkar ala Petinggi Golkar

Editor: Fathur Roziq

27 Mei 2024 04:09 27 Mei 2024 04:09

Thumbnail Pilkada Sidoarjo 2024; Strategi Bongkar ala Petinggi Golkar Watermark Ketik
Oleh: Fathur Roziq*

Media Survei Indonesia (MSI) merilis hasil risetnya pada 1 sampai 7 Mei 2024. Hasilnya tetap menempatkan H Subandi sebagai calon bupati terkuat. Kemudian Bambang Haryo Sukartono (BHS) di urutan kedua. Lalu, Ahmad Amir Aslichin (Mas Iin) menempati posisi ketiga.

Selain nama-nama itu, survei MSI juga menempatkan nama H Usman MKes, Hj Mimik Idayana, KH Zainal Abidin, dan Gus Saikhul Islam. Rata-rata survei para tokoh itu selalu tinggi. Besar, kans untuk memenangi Pilkada Sidoarjo 2024. Dalam berbagai kemungkinan pasangan.

Misalnya, BHS dipasangkan dengan Syaikhul Islam (BHS-Saikhul), elektabilitasnya 29,5 persen. BHS berpasangan dengan KH Zainal Abidin, angkanya tembus 35,8 persen. Bahkan, jika dipasangkan dengan Hj Mimik (BHS-Mimik), elektabilitasnya sampai 37,2 persen.

Hasil survei tertinggi juga diperoleh H Subandi jika berpasangan dengan Hj Mimik Idayana (40,3 persen). Mas Iin mampu meraih angka tertinggi 26,8 persen jika dipasangkan dengan KH Zainal Abidin.

Ada satu hal penting dari survei MSI itu. Tokoh-tokoh tersebut hanya bermuara pada dua simpul kekuatan. PKB dan Gerindra. Bersatunya kekuatan PKB dan Gerindra dalam satu pasangan calon bakal menghasilkan calon yang sangat-sangat sulit dikalahkan. Anggap saja, Pilkada Sidoarjo 2024 selesai.

Apa yang paling mungkin untuk mengalahkannya? Manuver bongkar kekuatan. Itulah yang, agaknya, barangkali hendak dimainkan (petinggi) Partai Golkar. Mungkin benar. Mungkin salah. Manuver politik tentu sah-sah saja. 

Kekuatan PKB bisa saja terpecah menjadi dua pasangan calon. Mas Iin dan H Usman maju sebagai calon bupati. H Subandi dan Hj Mimik juga maju sebagai calon. Kemudian, BHS maju juga menjadi calon bupati. Baik bersama KH Zainal Abidin atau Gus Syaikhul. Kekuatan PKB bisa terbelah. Kekuatan Gerindra pun mungkin terpecah.

Jadi, di sinilah sebenarnya alasan mengapa H Subandi jauh-jauh hari, bermanuver merangkul banyak partai untuk berkoalisi dalam Pilkada Sidoarjo 2024. Dia sadar dari awal. Ada kemungkinan kekuatan PKB terbelah. H Usman deklarasi. Mas Iin menyusul deklarasi.

Tapi, ada satu lagi yang saya kira sangat diperhitungkan H Subandi.

Apa itu? Pemerhati politik lokal pasti tahu. Siapa yang berada di balik Mas Iin dan H Usman. Dialah Anik Maslachah. Peraih suara tertinggi dalam Pileg 2024 lalu untuk PKB di DPRD Jatim.

Anik Maslachah, sejatinya, adalah tokoh terkuat itu. Besar dukungannya. Paling terstruktur kekuatannya. Tinggi jam terbang politiknya. Bahkan, kalau saja Anik Maslachah yang maju sebagai calon bupati Sidoarjo, dialah yang diprediksi paling berpeluang menang. 

Siapa yang bisa menjamin, sosok Mas Iin, H Usman, dan Anik Maslachah pasti berada di belakang H Subandi (notabene ketua DPC PKB Sidoarjo) dalam kontestasi Pilkada 2024? Sekalipun, rekom PKB ada di tangan H Subandi. Lebih-lebih bila rekom PKB itu jatuh ke Mas Iin, misalnya.

Sesepuh, tokoh, dan para bakal calon bupati dari PKB harus punya komitmen. Berpikir, berhitung, dan berikrar kuat. Janji mereka untuk tegak lurus kepada putusan DPP PKB wajib bisa dipegang. Jika ingin rekor jawara empat kali pilkada tetap berada di tangan.

Siapa saja yang memegang rekomendasi, dialah yang didukung. Sepakat, bulat. Utuh. Kalau tidak, pasti alarm bahaya menyala. Misalnya, jika BHS termakan rayuan petinggi Partai Golkar agar maju juga sebagai calon bupati, BHS cenderung mengambil pasangan dari PKB atau minimal ”berwarna” PKB. Bukan Hj Mimik Idayana.  

Kekuatan Partai Gerindra dan PKB pun masih mungkin sama-sama terpecah. Bisa muncul aneka varian pasangan cabup-cawabup. H Subandi-Hj Mimik. Mas Iin-H Usman. Mas Iin-KH Zainal. Bahkan, Mas Iin-Hj Mimik. Di sisi lain, bisa saja terjadi duet BHS-Gus Syaikhul. BHS-KH Zainal Abidin, atau BHS-H Usman.

Apa mungkin Mas Iin berpasangan dengan Hj Mimik? Politik selalu serbamungkin, Bung!

Jadi, tetap terbuka, kemungkinan Pilkada Sidoarjo 2024 diikuti tiga pasangan calon, bahkan lebih. Sejarahnya sudah ada. Pada Pilkada Sidoarjo 2015, ada empat pasangan calon. Dalam Pilkada Sidoarjo 2010, malah ada lima pasangan calon.

Mungkin itulah harapan petinggi Partai Golkar. Memang, dorongan petinggi Partai Golkar ke BHS untuk maju sekaligus merupakan isyarat dukungan. Buat BHS-Adam, misalnya. Tapi, bisa jadi, ada taktik lain yang disiapkan. Entah apa namanya.

Jika ada paling tidak tiga calon di Pilkada Sidoarjo 2024, Partai Golkar bakal punya kans untuk mengusung pasangan sendiri. Peluang belum hilang. Peluang menang malah semakin terbuka. Asalkan, kesolidan PKB terbongkar. Kekuatan Gerindra terbelah.

Golkar, tentu, akan berkoalisi dengan partai lain. Golkar-PDIP, misalnya. Siapa calonnya? Mungkin saja Sugiono-Adam Rusydi. Sugiono-M. Nizar juga boleh he he he.

Lalu, dari mana rekomnya? Tinggal berburu saja tiket Pilkada Sidoarjo 2024. Tiket ekonomis, bisnis, eksekutif, premium, luxury, atau first class? Maaf, ”tiket ideologis” tidak tersedia. (*)

 

 

*) Fathur Rozi, redaktur dan jurnalis senior Ketik.co.id yang bertugas di Sidoarjo

 **) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis

*) Karikatur by Rihad Humala/Ketik.co.id

**) Ketentuan pengiriman naskah opini:

• Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.co.id.

• Berikan keterangan OPINI di kolom subjek

• Panjang naskah maksimal 800 kata

• Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP

• Hak muat redaksi

 

 

Tags:

Pilkada Sidoarjo 2024 Pilkada Sidoarjo H Subandi BHS Mas Iin Hj Mimik Idayana KH Zainal Abidin H Usman MKes Gus Syaikhul Anik Maslachah PKB Sidoarjo Gerindra Sidoarjo Golkar Sidoarjo PDIP Sidoarjo Bupati Sidoarjo