Sampaikan Duka Cita, BHS Takziah ke Rumah Abizar

Editor: Moana

25 Oktober 2022 10:20 25 Okt 2022 10:20

Thumbnail Sampaikan Duka Cita, BHS Takziah ke Rumah Abizar Watermark Ketik
Foto : BHS saat takziah dan berbincang dengan Anisyah, nenek Abizar di rumahnya, Jalan Kupang Segunting Surabaya, Senin (24/10/2022).(Foto : Moana/KETIK)

KETIK, SURABAYA – Bambang Haryo Soekartono bersama rombongan BHS Peduli melakukan takziah ke rumah keluarga almarhum ananda Muhammad Abizar Al Ghifari. Salah satu penderita gagal ginjal akut di Surabaya. 

Kedatangan BHS disambut oleh Anisyah, nenek almarhum. BHS kemudian mengungkapkan rasa duka cita mendalam dan keprihatinan atas musibah yang menimpa keluarga kecil ini. Ia juga memberikan santunan. 

Pada kesempatan tersebut, BHS mengatakan bahwa Abizar merupakan 1 dari 13 anak yang meninggal akibat gagal ginjal akut di Jatim. 

"Kedatangan kami (takziah, red) adalah bentuk keprihatinan kami dari Tim BHS Peduli," terang BHS, Senin (24/10/2022).

Muhammad Abizar Al Ghifari, seorang bocah berusia 4 tahun itu meninggal dunia akibat gagal ginjal akut misterius. Sang bocah ternyata sempat meminum sirup yang mengandung cemaran etilon glikol (EG) melebihi ambang batas yang sudah ditentukan.

Dengan mata berkaca-kaca, sang nenek, Anisyah mengisahkan cerita menyayat hati yang dialami cucunya kepada BHS. Anisyah mengatakan, Abizar berjuang melawan sakitnya selama satu bulan. Ia meninggal pada Minggu, 9 Oktober 2022 di RSUD dr Soetomo.

Warga Jalan Kupang Segunting V/1, Tegalsari, Surabaya ini tak kuasa membendung air matanya jika mengingat tingkah lucu Abizar sebelum sakit. Wanita berusia 58 tahun itu masih terpukul dengan kepergian cucu tercinta.

Anisyah menceritakan, cucunya dinyatakan mengalami gagal ginjal akut oleh tim dokter RS William Both Surabaya pada 7 Oktober 2022. Anisyah selalu setia mendampingi sang cucu, baik di rumah maupun di rumah sakit, ketika pertama kali sakit hingga akhirnya menutup mata untuk selama-lamanya.

Pada awalnya, Abizar demam pada 9 September 2022. Dia lalu dibawa ke salah satu klinik di Pandegiling dan didiagnosis radang tenggorokan. Setelah diperiksakan itu, kondisi Abizar tak kunjung membaik. Dia lalu dibawa ke RS Gotong Royong.

Pada 5 Oktober 2022, Abizar sudah tidak bisa BAB dan kencing. Kondisinya terus menurun. "Dia nggak bisa BAB, dia pengen pipis dan beol tapi nggak bisa. Lah mana bisa dia nggak makan nggak minum," cerita Anisyah.

Hingga akhirnya, pada 7 Oktober 2022, Abizar dibawa ke RS Wiliam Booth. Di rumah sakit tersebut, bocah yang dikenal sangat ceria dan aktif itu didiagnosis gagal ginjal akut.

"Waktu saya bawa ke rumah sakit Wiliam Booth, ternyata masih dicek darahnya. Ditanya habis kena apa. Terus dibilangi, Abizar kena gagal ginjal akut, ditanya gen juga ndak ada," terang Anisyah.

Besoknya, Abizar dirujuk ke RSU dr Soetomo. Keluarga tentu berharap Abizar mendapatkan pertolongan medis yang lebih baik.

"Akhirnya ditunggu 1 hari, akhirnya dikeluarkan dari rumah sakit jam 7 pagi, dirujuk ke Soetomo," lanjut Anisyah.

Setibanya di RSUD dr Soetomo, Anisyah mengatakan, cucunya tak langsung ditangani. Saat di IGD, Anisyah sempat berteriak-teriak minta tolong agar cucunya segera ditangani. Seorang tenaga kesehatan berseragam hijau lantas menelepon seseorang. Akhirnya, Abizar mendapat pertolongan medis berupa obat. 

Pada 8 Oktober 2022, malam hari, Abizar menjalani hemodialisis atau cuci darah. Keluarga tak sempat bertemu dengan Abizar. Abizar langsung dibawa ke ICU.

Anisyah mengaku terus-menerus menangis saat sang cucu dirawat. Dia juga berdoa dan meminta doa dari teman dan keluarga agar Abizar segera sembuh.

Keesokan harinya, 9 Oktober 2022, Anisyah dipanggil oleh seorang tenaga kesehatan. Momen menjelang azan Asar itu tak bisa dilupakan oleh Anisyah. Saat naik ke lantai 2 ruang ICU, ia melihat 6 orang nakes mencoba memacu jantung Abizar.

Takdir tak bisa ditolak, nyawa Abizar tak bisa ditolong. Batin Anisyah terpukul hebat saat wajahnya baru saja dibasuh air wudu.

Pada keesokan harinya, 9 Oktober 2022, Anisyah dipanggil oleh seorang tenaga kesehatan. Momen menjelang azan Asar itu tak bisa dilupakan oleh Anisyah. Saat naik ke lantai 2 ruang ICU, ia melihat 6 orang nakes mencoba memacu jantung Abizar.

Takdir tak bisa ditolak, nyawa Abizar tak bisa ditolong. Batin Anisyah terpukul hebat saat wajahnya baru saja dibasuh air wudu.

"Saya ke sana (ruang ICU), Abi meninggal sebelum Asar pukul 14.50 WIB. Habis wudu saya jalan jemaah salat. Saya dipanggil dokter, katanya 'ibu adik Abizar genting'. Katanya gagal ginjal akut. Saya naik ada 6 orang memicu jantung pernapasan, sampai akhirnya nggak ada," ucap Anisyah sembari mengusap air matanya.

Ia pun sangat kehilangan cucu pertamanya itu. Baginya, Abizar adalah anak yang pintar, rajin salat, sangat ceria, dan aktif.

"Pas sembuh (sehat) ceria, aktif anaknya, main di depan. Dia rajin salat, kalau magrib ngajak saya salat, dia di masjid saya di mushala," kenangnya penuh isak.

Belakangan diketahui, saat sakit tenggorokan, Abizar sempat meminum obat sirup Unibebi Cough syrup. Di mana obat sirup itu termasuk dalam 5 obat yang mengandung cemaran etilon glikol (EG) melebihi ambang batas yang sudah ditentukan.

"Minum sirup obat batuk Unibebi. Kalau panas saya kasih itu, tapi Abi jarang sakit panas. Saya ke puskesmas dulu, itu dikasih obat gerus," kata Anisyah.

Setelah mendengar cerita Anisyah, BHS berharap besar agar Pemerintah RI segera melakukan riset dalam dunia kesehatan. Terutama melibatkan peran Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). 

Penyampaian hasil riset kesehatan ketika ada kasus-kasus tertentu dapat membantu publik mendapatkan informasi secara cepat dan akurat. Kemudian, riset juga perlu melibatkan lembaga-lembaga perguruan tinggi dan BPOM. 

"Ini memang butuh satu kesatuan dari semua lembaga itu untuk menentukan apa penyebab daripada ini. Karena anak cucu adalah modal masa depan bangsa ini," jelas BHS.  

Anggota DPR RI 2014-2019 tersebut juga meminta agar pemerintah menanggung semua biaya kesehatan untuk kasus-kasus kesehatan seperti ini karena termasuk dalam wabah yang juga melanda sejumlah negara. 

"Ini harus ditangani oleh pemerintah seperti Covid. Harus dibiayai oleh pemerintah karena sampai sekarang masih belum tahu penyebabnya apa," tandasnya. 

BHS juga mengapresiasi kecepatan dan komitmen Pemkot Surabaya untuk membebaskan seluruh biaya bagi pasien gagal ginjal akut tersebut. 

"Saya mengapresiasi Pemkot yang sudah mengeluarkan statemen waktu itu pak wali mengatakan bahwa semua pembiayaan dari rumah sakit ditanggung oleh pemerintah kota," ungkapnya. 

"Saya pikir ini adalah tindakan yang cepat. Mudah-mudahan ini diikuti oleh pimpinan dari kotamadya dan kabupaten seluruh Jatim," tambahnya. 

Sementara untuk pihak rumah sakit, BHS meminta tolong agar mengutamakan pasien dengan kondisi darurat dan membutuhkan perawatan secepat mungkin. 

"Bagi ibu-ibu yang putranya sakit jangan segan-segan segera membawa ke rumah sakit. Jangan menunggu parah dulu," ujarnya. 

Selain itu, BHS juga membagikan resep tradisional untuk mengatasi berbagai keluhan demam, batuk, pilek pada anak-anak maupun dewasa sehingga tidak perlu membeli obat. 

Resepnya adalah air kelapa tua dicampur dengan daun kunyit, daun seledri dan madu kemudian direbus dan diminum. Resep tersebut sudah diuji coba saat wabah pandemi Covid-19 kemarin. (*)

Tags:

Bambang Haryo Soekartono BHS Gagal Ginjal Akut