Saran Rizal Ramli ke Pemerintah Mental, Sekarang Terbukti Harga Beras Nanjak

Jurnalis: Shinta Miranda
Editor: Moana

4 Oktober 2023 12:23 4 Okt 2023 12:23

Thumbnail Saran Rizal Ramli ke Pemerintah Mental, Sekarang Terbukti Harga Beras Nanjak Watermark Ketik
Dr Rizal Ramli.(Dok.Pribadi)

KETIK, JAKARTA – Harga beras semakin tak terkendali. Rakyat menjerit. Ekonom harus turun tangan merumuskan kebijakan strategis.

Analisa bukan hanya omong kosong belaka. Tapi sebuah perhitungan matang di tengah eskalasi tantangan global.

Pada September 2020 silam. Begawan ekonomi Rizal Ramli sudah mengingatkan kepada pemerintah untuk mulai mengeluarkan kebijakan ketahanan pangan. 

Apalagi beberapa negara eksportir beras sudah berhati-hati mengeluarkan cadangannya untuk mengantisipasi seumpama sewaktu-waktu terjadi krisis pangan.

Rizal menilai seharusnya pemerintah mendorong petani agar meningkatkan produksi lahannya melalui kebijakan harga atau pricing policy. Kala itu.

Kebijakan penetapan harga tersebut dapat dilakukan dengan menjaga rasio antara gabah dan pupuk 3:2.

"Pricing policy bisa dilakukan dengan menjaga rasio antara gabah dan pupuk, sehingga, pada masa-masa tertentu, negara tidak lagi bergantung terhadap komoditas luar negeri," kata Rizal Ramli, Rabu (4/10/2023).

Rizal bercerita. Ketika ia menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. selalu ada persepsi berbeda antara Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan.

Pendapat pertama, produksi pangan mencukupi karena seluruh performa Kementerian Pertanian tergantung pada produksi.

Sedangkan pendapat kedua berasal dari Kementerian Perdagangan. Menurut Rizal, Kemendag dan Perum Bulog acap memandang stok beras kurang agar negara bisa membuka keran impor.

Padahal kenyataannya, ujar Rizal, kecukupan pasokan beras selalu berada di tengah-tengah. 

"Artinya, stok yang ada tak sesuai dengan data kedua-instansi. Karena itulah data antar-kementerian kerap tak sinkron," bongkarnya.

Rizal mengatakan saat ini Indonesia harus mulai mengeluarkan kebijakan terkait ketahanan pangan. 

Rizal juga menyayangkan saat ini ketahanan pangan Tanah Air masih disokong oleh impor. 

Apalagi beberapa negara eksportir beras, seperti Thailand dan Vietnam, sudah berhati-hati mengeluarkan cadangannya untuk mengantisipasi seumpama sewaktu-waktu terjadi krisis pangan. Namun ia mengecualikan. Impor bisa dilakukan jika terjadi cuaca buruk seperti El Nino.

"Itu negara yang biasa ekspor pangan menjaga pasokan yang penting (konsumsi) rakyat sendiri,” katanya.

Prediksi Rizal Ramli kian terbukti. Harga beras kian menanjak. Mulai Agustus 2022 hingga Selasa (3/10/2023). Bahkan belum menunjukkan tanda-tanda melandai.

Harga beras medium melonjak Rp30 ke Rp13.310 per kg dan beras premium naik Rp50 ke Rp14.920 per kg.

Sepekan lalu, 26 September 2023, harga beras medium tercatat di Rp13.150 per kg dan beras premium di Rp14.760 per kg.

Harga tersebut adalah rata-rata nasional di tingkat pedagang eceran. Secara rata-rata bulanan nasional, Panel Harga Badan Pangan menunjukkan, harga beras, baik premium maupun medium melonjak tajam di bulan September 2023 dan berlanjut hingga saat ini.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) hingga minggu keempat September 2023. Jumlah kabupaten/kota yang mengalami kenaikan harga ada 297 daerah. Naik dari sepekan sebelumnya 284 kabupaten/kota. 

Di mana 178 kabupaten/kota mengalami kenaikan harga beras cukup signifikan. Ada 29 kabupaten/kota yang kenaikan harga berasnya 17,64%, kemudian ada 30 kabupaten/kota yang kenaikannya 12,35%.

Sementara itu, Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi, mengatakan pemerintah tengah membuka opsi impor beras 1,5 juta ton di akhir 2023.

Opsi tersebut muncul seiring produksi beras yang mengalami defisit hingga akhir tahun. Dengan begitu, impor beras pemerintah tahun ini berpotensi lebih dari 2 juta ton.

"Setelah November 1,5 juta ton [impor], pokoknya apapun kita kerjakan. Kalau memang kurang, kenapa enggak? pilih mana punya stok atau tidak punya stok?," kata Arief saat ditemui di Pasar Rawamangun," Rabu (4/10/2023) dilansir dari Bisnis com.

Arief mengungkapkan bahwa impor beras akan dilakukan secukupnya untuk kebutuhan cadangan pemerintah dan stabilisasi harga. Penyerapan dari petani saat ini hampir sulit oleh Bulog lantaran harga yang sudah terlalu tinggi.

Rizal Ramli Ajak Berpikir Rasional 

Lain kisah namun satu benang merah. Seorang pengamat geopolitik meretas bagaimana Rizal Ramli mampu menelurkan prediksi bernas.

Suatu pagi di Jakarta. Jalanan macet seperti biasa. Seperti Manila dan Bangkok. Saat Jumat malam tiba. Dari Suvarnabhumi Airport dan Don Mueang International Airport menuju pusat kota macet berat juga. 

Banyak turis datang. Jika ingin cepat bisa naik motor atau mungkin tuktuk yang tahu cara memotong jalan.

Tulus Sugiharto. Pengamat geopolitik tengah mendengarkan radio sambil menikmati kemacetan.

Kebetulan radio ini mengambil segmen Gen X yang waktu tahun 70 atau 80 an jadi anak SMP, SMA atau kuliah. 

Radio itu memutar lagunya Queen. Berjudul Under Pressure. Duet dua penyanyi top Inggris yang sudah almarhum. Freddy Mercury dan David Bowie.  

Di Official Queen, lagu ini sudah dilihat  oleh 228 juta penonton dan dua tahun lalu lagu ini dicover oleh Hindley Street Country Club- HSCC. Jumlah penonton 911 ribu orang. Lumayan itu, kalau jadi caleg mungkin dengan mudah melenggang ke Senayan.

Kalau sudah sampai kantor, sebagai pegawai atau istilah kerennya karyawan eksekutif, tapi intinya semua itu buruh, akan langsung membuka komputer dan langsung melihat pesan PFA (Please Find Attached) atau jangan lupa target CD (Completion Date) alias dateline.

Ada juga bos yang bertanya apa  FYNA (For Your Next Action), banyak paper dengan tulisan ASAP (As Soon as Possible) dan yang paling nggak enak kalau bos minta OT atau kerja over time. Under pressure?

"Itu yang terlihat sekarang," kata Tulus.

Belum lagi jika membaca dan merenungkan berita  isinya “sebanyak lima permohonan uji formil Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja menjadi Undang-Undang (UU Cipta Kerja) ditolak seluruhnya oleh Majelis Hakim Konstitusi. Under pressure?

Makan siang di Amigos. Sedikit minggir got. Banyak warung-warung makan yang enak dan katanya murah. 

Cuma pemilik warung makan, yang gantian under pressure karena belakangan harga beras naik. Mereka terpaksa mengurangi porsi nasi atau menaikkan harga lauk agar nasi bisa tetap banyak. 

"Pokoknya harga naik atau ada yang dikurangi, pusing itu pemilik warung rakyat berpikir untuk konsumennya. Under pressure lagi?," gelaknya.

Benar harga beras memang naik. Twitter atau X  milik @RamliRizal pada Selasa (3/10/2023). Disebutkan membeli beras di supermarket dibatasi 10 kilogram.  

"Bang RR bilang di X nya. RR sudah ingatkan sejak 6 bulan yang lalu. Pemerintah hamba oligarki ini memang payah. Ngurus minyak goreng payah, sekarang ngurus beras amburadul, bikin rakyat susah doang," kata Tulus.

Sebagai mantan Kabulog di era Presiden Gus Dur, ia menilai Rizal Ramli pasti mengerti soal beras.

"Kerjaannya dulu salah satunya dengan cara monitoring di 20 pasar pusat jual beli beras," kisahnya .

Sebelum pulang, Rizal akan melihat warna harga beras di monitor kantornya yang besar. Kalau warna monitor putih, aman. Artinya harga beras stabil. Kalau hijau, mungkin naik sedikit dan seterusnya.  

"Kalau harganya berubah, bisa-bisa itu RR bisa OT alias over time, menelepon langsung Kepala Bulog daerah, kenapa harga naik," ingatnya.

Bukan itu saja, sebagai Kepala Bulog, Rizal Ramli juga harus memperkirakan ke depan pangan itu bagaimana? Apakah beras aman? 

Jika ada ramalan cuaca ekstrem, musik kering bahkan banjir apa antisipasinya  ?  Bagaimana dengan permintaan yang meningkat karena hari raya dan lain-lain.

Namun jika sifatnya mendadak seperti ada indikasi penimbunan, maka dengan cepat, Rizal Ramli bergerak, membanjiri pasar. 

"Masa pemerintah kalah sama broker beras kelas kampung? Cepat bergerak, bertindak, berani ambil resiko," ia mengomparasi.

Lantas, apakah RR under pressure?

"Sepertinya dia enjoy, yang kurang enjoy mungkin keluarga. Karena berkurang mendapat perhatiannya. RR memang pemikir Beras. Anonim  berpikir rasional. Dan beras kedua adalah 'berani ambil resiko'," kata Tulus.(*)

Tombol Google News

Tags:

Rizal Ramli Harga beras Impor Beras ketahanan pangan Ekonom