Sri Mulyani Yakin G20 Mampu Hadapi Ancaman Resesi Ekonomi Global 

Editor: Shinta Miranda

13 Oktober 2022 02:46 13 Okt 2022 02:46

Thumbnail Sri Mulyani Yakin G20 Mampu Hadapi Ancaman Resesi Ekonomi Global  Watermark Ketik
Sri Mulyani di G20. (Foto: Sekretariat Kabinet) 

KETIK, SURABAYA – Menteri Keuangan Sri Mulyani memimpin pertemuan menteri keuangan dan gubernur bank sentral G20 dalam Welcoming Remarks 4th Finance Ministers and Central Bank Governors (FMCBG) Meeting, Washing D.C., Amerika Serikat. Dalam kesempatan itu, dia menyampaikan keyakinannya forum G20 mampu membantu dunia menghadapi tantangan resesi dan krisis global. 

Menurut bendahara negara, tantangan ekonomi global yang kompleks tidak dapat diselesaikan oleh satu negara atau sekelompok negara yang bertindak sendiri. Hal ini membutuhkan tindakan kolektif dari kelompok yang terdiri dari 85 persen ekonomi dunia. 

"Saya benar-benar percaya bahwa G20 adalah mercusuar harapan yang dapat membantu dunia menavigasi gelombang krisis yang menghancurkan yang kita hadapi," kata Sri Mulyani dalam pertemuan keempat antara menteri keuangan dan gubernur bank sentral anggota G20 di Washington, D.C, Amerika Serikat, Kamis (13/10). 

Sri Mulyani menjelaskan, saat ini dunia sedang dihantam dengan ketidakpastian, bahkan akan lebih memanas di tahun depan. Ancaman 2023 resesi semakin nyata. 

"Perang di Ukraina terus memperburuk keamanan pangan global dan krisis gizi. Itu membuat harga energi, makanan, dan pupuk semakin tinggi dan tidak stabil. Perang juga membuat harga energi melonjak, mengakibatkan kekurangan energi dan masalah keamanan energi," jelas dia. 

Situasi semakin rumit, ketika negara maju mulai merespons ketidakpastian tersebut dengan pengetatan kebijakan moneter. Contohnya, Amerika Serikat (AS) yang dengan agresif menaikkan suku bunga acuan selama beberapa kali. 

"Kita telah melihat pengetatan kebijakan moneter global yang lebih cepat dari yang diantisipasi, dengan banyak negara maju dan negara berkembang menaikkan suku bunga mereka secara signifikan. Hal tersebut menciptakan risiko rembesan ke seluruh dunia," tutur dia. 

Sebelumnya, Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global di tahun depan menjadi 2,7 persen, dari proyeksi sebelumnya 2,9 persen. Risiko terjadinya resesi pun makin nyata. 

Sementara untuk tahun ini, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi global tetap 3,2 persen. Angka ini menurun dari realisasi tahun lalu 6,0 persen. Selain itu ada 28 negara yang sebelumnya juga sudah antre untuk bisa mendapatkan keringanan utang dari IMF. 

Dalam laporan proyeksi ekonomi IMF edisi Oktober 2022, Rabu (12/10), lembaga keuangan yang bermarkas di Washington, DC tersebut menyebut proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk tahun depan merupakan yang terlemah sejak 2001, di mana saat itu pertumbuhan ekonomi global sebesar 2,5 persen. 

"Tiga ekonomi terbesar di dunia, China, Uni Eropa, dan Amerika Serikat, akan melambat secara signifikan dalam 2022 dan 2023, dengan penurunan proyeksi pertumbuhan akibat ekspektasi kenaikan suku bunga yang signifikan oleh bank sentral untuk meredam inflasi," tulis laporan tersebut. 

Dalam laporan IMF tersebut juga disebutkan bahwa produk domestik bruto (PDB) riil global kemungkinan akan mengalami kontraksi, setidaknya selama dua kuartal berturut-turut di 2023. Kemungkinan terjadinya resesi ini mencapai 43 persen. "Revisi negatif (dari proyeksi ekonomi) lebih terasa untuk negara maju dibandingkan dengan negara berkembang," tulisnya. 

Untuk negara maju, IMF memproyeksi pertumbuhan ekonomi di 2023 sebesar 1,3 persen, turun dibandingkan proyeksi sebelumnya yang mencapai 1,5 persen. Sementara di negara berkembang, IMF memproyeksi pertumbuhan mencapai 3,6 persen di 2023, juga menurun dari proyeksi sebelumnya yang bisa mencapai 3,7 persen. (*)

Tombol Google News

Tags:

Menteri Keuangan Sri Mulyani G20 2023 resesi IMF