Icon X Ketik media Siber
Icon X Ketik media Siber

Follow our social media:

Icon tiktok png Icon instagram png Icon facebook png Icon twitter png

Event:

Kanal:

Harga Gabah Masih Tinggi, Khofifah Kembali Gelar Pasar Murah

Gambar Harga Gabah Masih Tinggi, Khofifah Kembali Gelar Pasar Murah Gubernur Khofifah saat melayani warga di operasi pasar murah.(Foto: Humas Pemprov Jatim)

Harga Gabah Masih Tinggi, Khofifah Kembali Gelar Pasar Murah

KETIK, KEDIRI – Untuk menstabilkan harga bahan pokok, Pemprov Jatim terus secara masif melakukan operasi pasar murah ke berbagai daerah. Kali ini di Kota Kediri, Gubernur Khofifah secara langsung hadir dan melayani masyarakat yang hadir untuk membeli sembako.

Sembako murah yang disediakan oleh Pemprov Jatim ini dijual dengan harga di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET). Di antaranya beras medium seharga Rp. 10.400/kg, minyak goreng merk Minyakita Rp. 13.000/liter, gula pasir dengan harga Rp. 13.000/kg, telur ayam ras harga Rp. 23.000/kg. Selain itu, ada aneka produk Industri Kecil Menengah (IKM) makanan serta minuman produksi Kota Kediri.

"Pasar murah ini digelar untuk meringankan beban masyarakat, agar dapat mengakses bahan pokok dengan harga yang terjangkau," jelas Khofifah Jumat (22/9/2023).

Khofifah menambahkan hingga saat ini harga Gabah Kering Panen (GKP) dan Gabah Kering Giling (GKG) terpantau masih mengalami kenaikan ditempat penggilingan. Sehingga harga beras terpantau belum mengalami penurunan. Oleh sebab itu operasi pasar murah ini digelar agar dapat menekan harga beras di pasaran.

"Kita terus koordinasi intensif dengan Bupati dan Wali Kota untuk bisa mengendalikan harga beras supaya daya beli masyarakat tetap terjaga," tambahnya.

Sejauh ini untuk stok beras di Jawa Timur sendiri masih mencukupi, bahkan surplus hingga 9,23 persen. Sebagai lumbung padi nasional, Jawa Timur juga memasok beras ke 16 provinsi Indonesia Timur. Oleh sebab itu menjaga kestabilan harga beras sangat penting, agar harga beras bisa tetap stabil di pasaran.

"Logistik yang Allah berikan dengan produktivitas cukup tinggi di Jawa Timur, harus kita bagi dengan provinsi lain. Sekarang Riau dan Bangka Belitung, lalu Sulawesi Selatan, juga dipasok Jatim," pungkasnya.(*)