PMII Pacitan Kaji Anggaran Disparbudpora Karena Pendapatan Objek Wisata Dinilai Tak Maksimal

Jurnalis: Al Ahmadi
Editor: Mustopa

19 April 2024 17:46 19 Apr 2024 17:46

Thumbnail PMII Pacitan Kaji Anggaran Disparbudpora Karena Pendapatan Objek Wisata Dinilai Tak Maksimal Watermark Ketik
Ketua PMII Pacitan, Riko Andy Prastyawan saat memberikan sambutan beberapa waktu lalu. (Foto: Al Ahmadi/Ketik.co.id)

KETIK, PACITAN – Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Pacitan tengah mengkaji anggaran Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disparbudpora) setempat.

Mereka menilai pendapatan dari objek wisata berangsur-angsur tidak maksimal seiring waktu berjalan.

Menurut Ketua PC PMII Pacitan, Riko Andi Prastyawan, potensi wisata di Pacitan sangat besar, tetapi pendapatan yang dihasilkan belum sebanding dengan kemampuan tersebut.

Ia menduga hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti minimnya promosi dan pengelolaan objek wisata yang belum optimal.

"Kami melihat potensi wisata di Pacitan sangat besar, tapi pendapatannya masih jauh dari harapan. Kami menduga ada beberapa faktor yang menyebabkan hal ini, seperti minimnya promosi dan pengelolaan objek wisata yang belum optimal," ujar Riko kepada Ketik.co.id, Kamis (18/4/2024).

Oleh karena itu, pihaknya saat ini tengah melakukan kajian mendalam terhadap anggaran Disparbudpora Pacitan.

Kajian ini akan fokus pada beberapa hal, seperti alokasi anggaran untuk promosi wisata, pengelolaan objek wisata, dan pemberdayaan masyarakat di sekitar objek wisata.

"Saat ini kami tengah mengodok atau membahas anggaran yang di kelola Disparbudpora. Sehingga akan muncul berapa persen keberhasilan dalam mencapai pendapatan serta anggaran pengelolaan keuangan secara keseluruhan," jelasnya.

Penilaian PC PMII Pacitan bahwa pendapatan dari objek wisata di Pacitan tidak maksimal, didasarkan pada beberapa data yang pihaknya temukan.

Salah satunya adalah data dari PAD Pacitan yang menunjukkan bahwa jumlah pendapatan wisatawan ke Pacitan dari tahun ke tahun gagal capai target.

"Bisa dilihat, tahun 2023 target PAD sektor wisata di Pacitan meleset dari target yang di canangkan Rp12,5 miliar hanya menembus angka Rp9 miliaran," ucapnya.

"Dilain itu juga belum lama ini selama libur lebaran 1445 Hijriah Tahun 2024. Ternyata hasilnya belum mampu jadi tulang punggung kontribusi PAD," sambungnya.

Selain itu, PC PMII Pacitan juga melakukan observasi. Hasil di lapangan menunjukkan bahwa masih ada objek wisata dengan kondisi tidak terawat hingga pelaku wisata dan UMKM yang masih cukup membutuhkan perhatian. 

Hal itu yang membuat wisatawan enggan untuk berkunjung ke objek wisata tersebut.

"Manfaat dari ekosistem pariwisata ini besar untuk masyarakat setempat. Namun ternyata beberapa pedagang kadang mengeluh lantaran kurang mendapatkan untung karena wisatawan membawa bekal dari rumah," ucapnya.

Hasil kajian tersebut nantinya akan digunakan oleh PC PMII Pacitan untuk memberikan rekomendasi kepada Disparbudpora Pacitan.

"Alokasi anggaran yang kurang maksimal tentunya membuat hasilnya tidak ada yang signifikan. Satupun obyek wisata tidak ada yang tuntas, paling bagus hanya Klayar. Ini agar ada penyegaran di sektor wisata Pacitan yang jadi tulang punggung pemasukan," tambahnya.

Dari upaya pengelolaan yang baik, PC PMII Pacitan berharap pendapatan dari objek wisata di Pacitan dapat meningkat. Hal ini tentunya akan berdampak positif bagi perekonomian masyarakat Pacitan.

"Jika wisata di Pacitan jadi primadona masyarakat luar dan dikenal tak hanya karena pantainya, include dengan budayanya. Pasti minat pelancong juga makin tinggi," sergahnya.

Hingga berita ini ditayangkan, pihak Disparbudpora Pacitan belum memberikan tanggapan resmi. Baik langkah kajian yang akan dilakukan oleh PC PMII Pacitan, ataupun kemerosotan PAD wisata akhir-akhir ini. (*)

Tags:

PMII Pacitan pacitan wisata DISPARBUPORA PACITAN