Siapa tak kenal Probolinggo ? Ya daerah ini berdiri dengan segala keelokan diwariskan alam dan sejarah. Kota dan kabupatennya seperti dua kepingan berlian yang menunggu diasah. Gunung yang menjulang, laut yang berbisik, ladang hijau membentang. Bahkan jejak budaya yang berlapis-lapis. Semua menunggu sentuhan yang tak sekadar membangun. Tetapi juga merawat dan menghidupkan.
Jumat 21 Maret 2025 kemarin, persisnya usai salat jumat, penulis berjumpa Wali Kota Probolinggo, dr Aminuddin. Seperti biasa, dalam situasi santai maupun resmi, perbincangan kami tidak fokus pada satu masalah. Ada beberapa topik sehat didiskusikan. Topik-topik sampah kami lewati. Artinya kami malas membahas topik ga penting. Apa lagi berghibah.
Ada satu hal menarik dari perbincangan itu. Penulis pikir ini layak di share ke ranah publik. Dan biarkan masyarakat menilai dengan logikanya masing-masing. Ini soal gagasan cemerlang pak dokter. Tentang dunia pariwisata. Bonusnya bakal seperti apa untuk masa depan Probolinggo, biarkan waktu yang menjawab.
“Saya akan bicara sama Gus Haris, saya mau tawarkan kolaborasi jualan paket wisata Probolinggo,” kata dokter asli Palembang itu. Sejenak penulis terdiam. Masuk akal dan original ide ini. Hanya itu yang terlintas di pikiran penulis sesaat setelah mendengar kalimat pak dokter.
Artinya, sebagai kepala daerah dia tak ingin pola pikirnya dikepung batas administratif. Baginya, urusan memajukan Probolinggo, tidak ada kota atau kabupaten. Sepanjang bisa berkolaborasi dengan Gus Haris, bupatinya, mengapa tidak?. Menjual destinasi pariwisata bagi dr. Aminuddin, tak mengenal batas. Seperti aliran sungai mengalir yang mencari lautnya. Seperti matahari yang tak memilih tanah mana akan disinari.
Keren, jika ini terwujud. Wali kota bersama sang bupati, yang sama-sama dokternya ini menenun mimpi baru untuk Probolinggo. Untuk warga kota/kabupaten Probolinggo. Keindahan terhampar di dua wilayah ini bakal menjadi satu kesatuan. Dijual dengan rangkaian cerita yang sama. Bromo yang perkasa, Madakaripura yang sejuk di antara bebatuan, hingga Pantai Bentar, yang menyimpan senja paling indah. Lalu di pusat kotanya, warisan kolonial berdiri anggun. Pasar tradisional berdenyut dengan kehidupan yang tak pernah padam. Paket komplit sebuah perjalanan wisata.
"Kenapa tidak kita kemas menjadi satu?" kata dokter Amin. Wisatawan yang datang ke Kota Probolinggo, akan menyelami budaya dan kehidupan pesisir. Selanjutnya melangkah ke alam yang lebih liar di Kabupaten Probolinggo. Ibarat lembaran buku tersusun rapi. Wisata di dua wilayah ini harus dirangkai dalam satu narasi besar. Kisah tentang Probolinggo yang kaya, indah, dan siap menyambut dunia. Maka dimulailah sebuah babak baru.
Wali Kota dan Bupati duduk satu meja. Bukan sebagai dua pemimpin yang berbeda. Tetapi sebagai saudara yang memegang obor yang sama. Mereka membahas promosi yang tak lagi sendiri-sendiri. Tetapi bersatu dalam satu kampanye: “Explore Probolinggo, Beragam Destinasi, Sejuta Pengalaman” begitu kira-kira taglinenya. Kedua tokoh menggandeng para pengusaha. Pemilik hotel, pemandu wisata, hingga pengrajin kecil di desa-desa. Semua diajak menjadi bagian dari panggung besar ini.
Di era digital, promosi tak boleh lagi hanya mengandalkan brosur yang tersimpan di pojok kantor dinas. Dr. Aminuddin tahu itu. Dunia kini bergerak dalam layar-layar kecil di tangan manusia. Maka media sosial menjadi panggung utama. Video-video yang menangkap keindahan Probolinggo, kudu diproduksi dan diedarkan. Biarkan menyusup ke hati para pencari petualangan. Pengaruh digital, influencer, dan vlogger diundang untuk menceritakan keajaiban tanah ini kepada dunia. Dan seperti gelombang yang bergulung, perubahan segera terasa.
Apa arti wisata bagi sebuah daerah? Bagi dr. Aminuddin, wisata bukan hanya soal jumlah kunjungan. Atau pajak yang masuk ke kas daerah. Wisata adalah denyut nadi yang memberi hidup. Saat wisata berkembang, warung-warung kecil mendapat pelanggan baru. Hotel-hotel penuh tamu yang membawa cerita dari berbagai penjuru negeri.
Anak-anak muda yang dulu ragu ingin bekerja di kampung halaman kini melihat peluang. Mereka menjadi pemandu wisata, membuka kedai kopi dengan tema khas Probolinggo. Atau merintis usaha penginapan berbasis kearifan lokal. Bahkan, mereka yang dulu ingin merantau kini memilih tetap tinggal. Karena tanah kelahiran mereka menjadi ladang subur untuk berkarya.
Di desa-desa, ibu-ibu mulai menjual oleh-oleh dengan kemasan yang lebih menarik. Para petani tak hanya menjual hasil panennya ke tengkulak. Tetapi juga ke wisatawan yang ingin membawa pulang rasa dari tanah Probolinggo. Dan nelayan di pesisir tak hanya mencari ikan untuk pasar. Tetapi juga menyajikan pengalaman makan di tepi laut bagi para tamu yang datang.
Tapi dok… anda juga harus sadar. Alam bukan untuk dieksploitasi. Alam harus dijaga agar tetap indah bagi generasi mendatang. Hutan-hutan di sekitar Bromo, harus tetap hijau. Pantai-pantai harus bersih dari sampah. Dan budaya harus tetap asli, tidak hanya menjadi tontonan tanpa makna. Maka, dalam kolaborasi ini, harus disampaikan satu pesan penting: wisata adalah tentang keseimbangan. Probolinggo boleh maju, tetapi tanpa kehilangan jati dirinya.
Penulis kembali membayangkan, jika kolaborasi terjadi, wisatawan tak lagi sekedar mampir. Tetapi tinggal lebih lama, menikmati setiap sudut yang ditawarkan Probolinggo. Festival budaya akan digelar lebih meriah. Kuliner lokal semakin dikenal. Dan yang paling penting, masyarakat merasakan dampak langsung dari geliat pariwisata yang berkembang.
Di balik semua ini, kelak dr. Aminuddin, dan Gus Haris, bakal tersenyum. Bukan karena keberhasilan yang bisa dihitung dengan angka. Tetapi karena keduanya melihat Probolinggo berdiri dengan gagah di peta wisata Indonesia. Akhirul kalam, cahaya Probolinggo di tangan dokter dokter religius ini akan bersinar lebih terang* Salam.
*) Eko Hardianto merupakan jurnalis ketik.co.id (jaringan suara.com) untuk Probolinggo raya)
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis
***) Karikatur by Rihad Humala/Ketik.co.id
****) Ketentuan pengiriman naskah opini:
- Naskah dikirim ke alamat email [email protected].
- Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
- Panjang naskah maksimal 800 kata
- Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
- Hak muat redaksi.(*)