Empat Pekan Tanpa Hujan, Petani Tembakau di Pacitan Merana Kesulitan Air

Jurnalis: Al Ahmadi
Editor: Gumilang

11 Juni 2024 15:40 11 Jun 2024 15:40

Thumbnail Empat Pekan Tanpa Hujan, Petani Tembakau di Pacitan Merana Kesulitan Air Watermark Ketik
Ketua Kelompok Tani di Desa Punjung, Suroso, saat berpose di lahan tembakau miliknya yang mulai mengering. (Foto: Al Ahmadi/Ketik.co.id)

KETIK, PACITAN – Kekeringan melanda Kabupaten Pacitan, Jawa Timur selama empat minggu terakhir mulai membawa dampak signifikan bagi para petani tembakau. Akibat kemarau, pasokan air untuk pertanian turun signifikan.

Di Desa Punjung, Kecamatan Kebonagung misalnya. Meskipun luas lahan tembakau tergolong kecil, sekitar 12 hektar, para petani tetap merasa was-was. Lantaran mereka mengalami kekurangan pasokan air.

Betapa tidak, delapan dusun di Desa Punjung rata-rata memiliki petani tembakau. Pun menjadi, sektor pendapatan utama bagi warga setempat. Saat ini, mereka yang tergabung dalam kelompok kompak merasakan hal serupa.

"Kondisinya memang debit air mulai berkurang, saat ini kami hanya mengandalkan sumber mata air seadanya. Karena kalau sumur memang jarang di wilayah kami," kata Ketua Kelompok Tani setempat, Suroso, mewakili anggotanya, Rabu (11/6/2024).

Tak jarang, para petani juga harus berduyun-duyun mengambil air dari lokasi nan jauh. Termasuk, memanfaatkan berbagai sumber yang ada.

"Pastinya cemas, khawatir kalau gagal dipanen karena tanaman tembakaunya mati. Syukur kalau ada upaya untuk mengatasi dampak dari kekeringan ini darimana saja," sahut salah satu petani lainnya, Haryono kepada Ketik.co.id.

Sebagai solusi jangka pendek, para petani di Desa Punjung beriringan memanfaatkan lahan kosong lainnya untuk menanam palawija. Palawija disebut membutuhkan air lebih sedikit jika dibandingkan tanaman tembakau.

"Sejauh ini terkait bantuan dari dana cukai pemerintah memang ada berupa alat pengolahan. Namun untuk irigasi tembakau sejauh ini belum ada," ungkapnya. Kekhawatiran para petani diperkuat dengan pernyataan Direktur Perumdam Pacitan, Agus Suseno.

Ia mengakui bahwa debit air baku telah mengalami penurunan hingga 30 persen sejak awal Mei 2024. "Penurunan debit air ini memang terjadi di beberapa wilayah, termasuk di Kebonagung," kata Suseno.

Lebih lanjut, Suseno mengatakan bahwa pihaknya akan terus melakukan koordinasi dengan berbagai pihak terkait untuk mengatasi kelangkaan air secara permanen, termasuk pemerintah daerah dan BPBD.

"Kami akan terus berupaya mencari solusi jangka panjang untuk mengatasi permasalahan air ini," tandasnya. (*)

Tags:

pacitan Kekeringan