Ratusan SD Pacitan Minim Murid, Polemik Keberhasilan KB hingga Urbanisasi

Jurnalis: Al Ahmadi
Editor: M. Rifat

1 Agustus 2023 14:13 1 Agt 2023 14:13

Thumbnail Ratusan SD Pacitan Minim Murid, Polemik Keberhasilan KB hingga Urbanisasi Watermark Ketik
Seorang murid di Sekolah Dasar (SD) Pacitan yang hanya diikuti segelintir murid. (Foto: Al Ahmadi/Ketik.co.id)

KETIK, PACITAN – Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Pacitan mengungkapkan ratusan Sekolah Dasar (SD) di Pacitan kekurangan murid. Minimnya itu disebut karena suksesnya program Keluarga Berencana (KB), hingga perpindahan penduduk dari desa ke kota.

Kepala Bidang Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Pacitan Wahyono memaparkan, sebanyak 195 dari 418 Sekolah Dasar Negeri di Pacitan memiliki jumlah murid di bawah sepuluh orang. Bahkan, pada PPDB tahun 2023 ini, terdapat 43 sekolah yang pendaftarnya hanya 2-4 murid.

"Lha pripun pak, wong mboten wonten murid e (gimana pak, lha tidak ada muridnya)," ucapnya saat bertanya ke salah satu kepala sekolah di Pacitan yang minim murid, Selasa, (1/8/2023).

Wahyono menambahkan, tolak ukur sekolah dianggap ideal, yakni apabila murid per kelas terdapat sepuluh anak, pun secara keseluruhan didambakan, minimal ada 60 murid dalam satu sekolahan.

Akibatnya, kata Wahyono, mempengaruhi pengelolaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), karena nilai dukungan dana mengacu pada jumlah murid. Bagi sekolah yang minim murid, tentu bakal tidak maksimal dalam meningkatkan mutu.

"Kalau beberapa tahun lalu, siswa di bawah 60 memperolehan BOS nya juga 60. Sekarang kalau jumlah siswanya 19 dapat dananya juga segitu," ucapnya.

Terlebih, lanjut Wahyono, apabila jumlah murid untuk satu kelas kurang dari 10 orang. Di mana hal tersebut tidak efisien dan efektif dalam proses belajar mengajar khususnya bagi guru pengampu.

"Ya meskipun hasilnya tidak efektif dalam kelompok belajar," lanjutnya lagi.

Foto Kepala Bidang Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Pacitan, Wahyono saat ditumui di kantornya. (Foto: Al Ahmadi/Ketik.co.id)Kepala Bidang Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Pacitan, Wahyono saat ditumui di kantornya. (Foto: Al Ahmadi/Ketik.co.id)

Wahyono mengungkapkan, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan hal itu, di antaranya, berkaitan dengan tingkat pasangan usia subur di wilayah, geografis, keberhasilan program Keluarga Berencana (KB), dan urbanisasi (tidak meratanya penduduk di wilayah).

"Ada salah satu murid yang saat ini harus berjalan kaki sampai dua kilometer, itupun tidak melalui jalan umum, tetapi melalui tebing tebing," ungkapnya lagi.

Namun, agar hak pendidikan tetap bisa didapat oleh masyarakat dengan baik. Pihaknya tengah mengkaji wacana regrouping (penggabungan) baik secara teknis maupun teoritis. Begitu pula, melakukan koordinasi lintas sektor, sedikitnya instansi terkait (sekolahan), dan pemerintah desa.

"Kemarin juga sudah kami datangi ke rumah, sekolah juga memberikan kebijakan, apabila terdapat curah hujan tinggi dan beresiko pada keselamatan, lebih baik tidak datang kesekolah. Tentunya agar anak bersekolah di lokasi terdekat," tandasnya.

Keberhasilan Program KB jadi Salah Satu Penyebabnya

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak (PPKB dan PPPA) Jayuk Susilaningtyas menegaskan bahwa kelahiran itu harus diatur, guna meminimalisir resiko bagi anak, ibu maupun keluarga.

"Misalnya tidak kita batasi, kalau meledak (populasinya) jadi bebannya pemerintah juga, selain beban bagi dirinya sendiri," katanya.

Terlebih, perencanaan KB tersebut diharapkan dapat mensejahterakan masyarakat. Menyoal ada masalah penurunan murid di sekolah-sekolah, Jayuk mengatakan, seharusnya tetap ada solusi yang bakal ditempuh, sebab dengan kemajuan teknologi saat ini dirasa jauh dibandingkan jaman dulu.

"Kalau dulu saya masih bisa memaklumi ya, karena kan masyarakat itu belum punya transportasi sepeda motor. Tapi sekarang yang miskin saja sudah punya sepeda motor. Menurut saya itu alasan saja," ujarnya.

Begitu pula, kata Jayuk, terkait masyarakat yang tak mau menambah keturunan. Hal itu dirasa mereka juga sudah mandiri dalam merencanakan keluarga. Sebab, edukasi yang pihaknya berikan tak bersifat absolut, apalagi memaksa.

"Teman-teman penyuluh itu, selain ketemu langsung, mereka juga mengedukasi melalui Media Sosial (Medsos). Mungkin dengan itu masyarakat sekarang lebih mardiri untuk menambah pengetahuan," tambanya.

Lanjut Jayuk, kemungkinan dampak program itu sudah dirasakan. Hingga membuat masyarakat juga nyaman dengan adanya perencanaan keluarga tersebut.

"Oh ternyata kalau setelah mengatur kelahiran itu, lebih mapan keluarga saya. Dan itu kan secara nasional, dua anak lebih sehat, berencana itu keren," pungkasnya.(*)

Tombol Google News

Tags:

pemkab pacitan dindik Dinas PPKB dan PPPA SD Sekolah Dasar kb