Baru-baru ini viral film asal negeri Jiran yang mengangkat isu keagamaan. Disadari atau tidak, isu ini sebenarnya dekat dengan realita di sekitar. Fenomena penyalahgunaan nama agama demi mendapatkan keuntungan dan kepuasan pribadi oleh oknum yang mengaku sebagai seorang wali atau ulama.
Dalam film tersebut ajaran yang dibawa oleh Walid, seorang ulama yang menjadi tokoh utama, amat sangat meresahkan. Kepada para jemaah Jihad Ummah, Walid yang diperankan aktor senior Malaysia Faizal Hussein ini mengaku sebagai utusan yang berhak ‘disembah’ layaknya Tuhan.
Alih-alih menjadi panutan yang baik, Walid memanfaatkan kedudukannya sebagai pemuka agama untuk menipu dan memanipulasi jemaah demi kepentingannya. Mirisnya, laki-laki tua itu juga melakukan kekerasan dan pelecehan terhadap murid-muridnya yang masih di bawah umur.
Ajaran-ajaran Walid bukan hanya sebatas alur film belaka, tetapi juga bisa menjadi kritik sosial bagi mereka yang menyalahgunakan agama demi kepentingan pribadi.
Kepatuhan Mutlak
Akar dari segala penyimpangan Walid adalah sistem kepatuhan mutlak. Relasi kuasa yang dibangun Walid kepada murid-muridnya begitu kuat. Segala perintah dan aturannya tidak boleh dilanggar. Begitu pun keinginannya, tidak ada satupun yang tampak berani menentang meskipun itu menyimpang.
Walid menyebut dirinya sebagai Imam Mahdi yang berjuang menyelamatkan manusia dari kekacauan akhir zaman. Tak jarang, dia mengaku telah mendapatkan perintah langsung dari Allah dan Rasul untuk melakukan sesuatu yang menjadi tipu muslihatnya.
Inilah yang menjadikan pengikutnya tunduk mutlak. Mereka dicekoki berbagai doktrin dengan embel-embel keberkahan dan surga. Ini tergambar jelas pada scene Malam Berkah, di mana seluruh pengikutnya wajib mencium dan meminum air rendaman kakinya untuk mendapatkan keberkahan.
Bagi mereka yang sedang merasa kehilangan spiritualitas, ini bisa jadi oase di tengah tandusnya gurun. Mereka lupa bahwa kepatuhan mutlak hanya patut ditujukan pada Tuhan. Kepatuhan pada manusia? Tentu ada batasnya.
Makna tauhid tidak pernah memposisikan manusia lebih tinggi dari sesamanya. Artinya, kedudukan manusia itu sama sebagai hamba Tuhan. Tidak ada yang boleh memperhamba dan diperhamba. Ini alasan mengapa sistem perbudakan dihapuskan.
Persis seperti ungkapan Nyai Nur Rofiah dalam bukunya Nalar Kritis Muslimlah, sejatinya setiap manusia baik laki-laki maupun perempuan memiliki status melekat sebagai hamba Allah SWT. Keduanya sama-sama memiliki amanah melekat sebagai khalifah fil ‘ardh.
Doktrin semakin kuat setelah Walid memerintahkan pengikutnya membuang akal untuk memahami agama. Jika benar merujuk pada Al-Quran dan sunnah, tentu ini bertentangan.
Pasalnya, tidak ada dalil yang mengatakan akal tidak penting dalam beragama. Justru ada puluhan ayat yang mengharuskan manusia menggunakan akalnya untuk memahami kebesaran-Nya. Untuk mengetahui apakah sesuatu itu baik atau buruk.
Belum lagi, Walid dan pengikutnya seringkali mengutip dalil secara tekstual saja tanpa melihat konteksnya. Ini berpotensi menimbulkan pemahaman yang keliru.
Memuaskan Nafsu
Walid tak henti-hentinya membuat penonton geram. Setelah memelintir makna dalil demi kepentingannya, di beberapa scene dia terciduk melakukan hal tidak senonoh dengan murid-murid perempuannya.
Bagi saya, ini adalah scene paling kurang ajar. Walid semakin memainkan tipu muslihatnya dengan memberikan kata-kata manis yang memikat hati korban sehingga mereka bisa dengan mudah terbujuk rayuannya. Para korban yang seusia anak remaja itu terjebak manipulasi si Walid untuk memuaskan nafsunya.
Di dunia nyata, predator seperti Walid memiliki cara serupa. Mereka pandai memanipulasi seseorang dengan mengatakan apa yang dilakukannya adalah hal wajar. Kalau tidak salah, di drama tersebut Walid menggunakan istilah ayah dan anak untuk melancarkan aksinya.
Pantauan Komnas Perempuan tahun 2021, di Indonesia kasus kekerasan seksual di lembaga pendidikan berbasis agama dan asrama tergolong tinggi dibanding lembaga pendidikan umum.
Kerentanan ini disebabkan beberapa hal. Salah satunya, relasi kekuasaan berlapis antara pelaku selaku pemilik lembaga yang memiliki pengaruh dan memanfaatkan power tersebut untuk mengelabui murid-muridnya. Sikap ini tergambar jelas pada film tersebut, Walid memanfaatkan powernya sebagai pemimpin untuk menggiring korban menuruti nafsunya.
Pelaku kekerasan dan pelecehan seksual juga pintar menjebak korbannya dengan mengajak mereka ke tempat sepi. Di situlah pelaku mengintimidasi korban dan membuat mereka tidak bisa berkutik sehingga seakan-akan terlihat berkenan.
Kondisi ini seringkali membuat publik terkecoh. Menganggap bahwa korban bersedia melakukan hal tidak senonoh itu dengan pikiran sadar atau mau sama mau. Padahal, korban tetaplah korban yang berada dalam kendali penuh pelaku.
Walid juga sangat menjunjung tinggi poligami dengan sistem nikah batin. Anak-anak muda dinikahkan dengan pria-pria tua untuk menjadi istri kedua, ketiga, dan seterusnya secara tidak resmi. Tetapi menggunakan istilah nikah batin yang sebenarnya saya pun tidak tahu apa itu nikah batin.
Menyoal poligami, mungkin ini mengandung perdebatan. Tapi bagi saya, poligami itu tidak boleh meskipun memang dalam kitab suci diperbolehkan. Sebab, mudharatnya lebih besar dan memahami ayat tentang poligami pun tidak bisa sembarangan.
Dari sini, saya rasa serial drama ini tidak hanya berhasil menjadi hiburan, tetapi sukses memotret realitas sekitar yang cukup sensitif untuk dibicarakan.
*) Siti Fatimah merupakan jurnalis Ketik.co.id di Surabaya
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis
***) Karikatur by Rihad Humala/Ketik.co.id
****) Ketentuan pengiriman naskah opini:
- Naskah dikirim ke alamat email [email protected].
- Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
- Panjang naskah maksimal 800 kata
- Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
- Hak muat redaksi.(*)